SASTRA PESISIR JAWA TIMUR DAN SULUK-SULUK SUNAN BONANG 1
20 Januari 2009 pukul 7:35
SASTRA PESISIR JAWA TIMUR DAN SULUK-SULUK SUNAN BONANG
Oleh Abdul Hadi W. M.
Jawa Timur adalah propinsi tempat kediaman asal dua suku bangsa besar, yaitu Jawa dan Madura, dengan tiga sub-etnik yang memisahkan diri dari rumpun besarnya seperti Tengger di Probolinggo, Osing di Banyuwangi dan Samin di Ngawi. Dalam sejarahnya kedua suku bangsa tersebut telah labih sepuluh abad mengembangkan tradisi tulis dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pengalaman estetik mereka.
Kendati kemudian, yaitu pada akhir abad ke-18 M, masing-masing menggunakan bahasa yang jauh berbeda dalam penulisan kitab dan karya sastra – Jawa dan Madura – akan tetapi kesusastraan mereka memiliki akar dan sumber yang sama, serta berkembang mengikuti babakan sejarah yang sejajar. Pada zaman Hindu kesusastraan mereka satu, yaitu sastra Jawa Kuno yang ditulis dalam bahasa Kawi dan aksara Jawa Kuno. Setelah agama Islam tersebar pada abad ke-16 M bahasa Jawa Madya menggeser bahasa Jawa Kuno. Pada periode ini dua aksara dipakai secara bersamaan, yaitu aksara Jawa yang didasarkan tulisan Kawi dan aksara Arab Pegon yang didasarkan huruf Arab Melayu (Jawi).
Pigeaud (1967:4-7) membagi perkembangan sastra Jawa secara keseluruhan ke dalam empat babakan: (1) Zaman Hindu verlangsung pada abad ke-9 - 15 M. Puncak perkembangan sastra pada periode ini berlangsung pada zaman kerajaan Kediri (abad ke-11 dan 12 M, dilanjutkan dengan zaman kerajaan Singosari (1222-1292 M) dan Majapahit (1292-1478 M); (2) Zaman Jawa-Bali pad abad ke-16 - ke-19 M. Setelah Majapahit diruntuhkan kerajaan Demak pada akhir abad ke-15 M, ribuan pengikut dan kerabat raja Majapahit pindah ke Bali. Kegiatan sastra Jawa Kuno dilanjutkan di tempat tinggal mereka yang baru ini; (3) Zaman Pesisir berlangsung pada abad ke-15 -19 M. Pada zaman ini kegiatan sastra berpindah ke kota-kota pesisir yang merupakan pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam; (4) Zaman Surakarta dan Yogyakarta berlangsung pada abad ke-18 - 20 M. Pada akhir abad ke-18 M di Surakarta, terjadi renaisan sastra Jawa Kuno dipelopori oleh Yasadipura I. Pada masa itu karya-karya Jawa Kuno digubah kembali dalam bahasa Jawa Baru. Lebih kurang tiga dasawarsa kemudian, karya Pesisir juga mulai banyak yang disadur atau dicipta ulang dalam bahasa Jawa Baru di kraton Surakarta.
Khazanah Sastra Jawa Timur.
Khazanah sastra zaman Hindudan Islam Pesisir – dua zaman yang relevan bagi pembicaraan kita -- sama melimpahnya. Keduanya telah memainkan peran penting masing-masing dalam kehidupan dalam masyarakat Jawa dan Madura. Pengaruhnya juga tersebar luas tidak terbatas di Jawa, Bali dan Madura. Karya-karya Pesisir ini juga mempengaruhi perkembangan sastra di Banten, Palembang, Banjarmasin, Pasundan dan Lombok (Pigeaud 1967:4-8). Di antara karya Jawa Timur yang paling luas wilayah penyebarannya ialah siklus Cerita Panji. Versi-versinya yang paling awal diperkirakan ditulis menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15 M (Purbatjaraka, 1958). Cerita mengambil latar belakang di lingkungan kerajaan Daha dan Kediri. Versi roman ini, dalam bahasa-bahasa Jawa, Sunda, Bali, Madura, Melayu, Siam, Khmer dan lain-lain, sangat banyak. Dalam sastra Melayu terdapat versi yang ditulis dalam bentuk syair, yang terkenal di antaranya ialah Syair Ken Tambuhan dan Hikayat Andaken Penurat.
Tetapi bagaimana pun juga yang dipandang sebagai puncak perkembangan sastra Jawa Kuno ialah kakawin seperti Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa), Hariwangsa (Mpu Sedah), Bharatayudha (Mpu Sedah dan Mpu Panuluh), Gatotkacasraya (Mpu Panuluh), Smaradahana (Mpu Dharmaja), Sumanasantaka (Mpu Monaguna), Kresnayana (Mpu Triguna), Arjunawijaya (Mpu Tantular), Lubdhaka (Mpu Tanakung); atau karya-karya yang ditulis lebih kemudian seperti Negarakertagama (Mpu Prapanca), Kunjarakarna, Pararaton, Kidung Ranggalawe, Kidung Sorandaka, Sastra Parwa (serial kisah-kisah dari Mahabharata) dan lain-lain (Zoetmulder 1983: 80-478). Apabila sumber sastra Jawa Kuno terutama sekali ialah sastra Sanskerta, seperti diperlihatkan oleh puitika dan bahasanya yang dipenuhi kosa kata Sanskerta; sumber sastra Pesisir ialah sastra Arab, Parsi dan Melayu. Bahasa pun mulai banyak meminjam kosa kata Arab dan Parsi, terutama yang berhubungan dengan konsep-konsep keagamaan.
Kegiatan sastra Pesisir bermula di kota-kota pelabuhan Gresik, Tuban, Sedayu, Surabaya, Demak dan Jepara. Di kota-kota inilah komunitas-komunitas Muslim Jawa yang awal mulai terbentuk. Mereka pada umumnya terdiri dari kelas menengah yang terdidik, khususnya kaum saudagar kaya. Dari kota-kota ini kegiatan sastra Pesisir menyebar ke Cirebon dan Banten di Jawa Barat, dan ke Sumenep dan Bangkalan di pulau Madura. Pengaruh sastra Pesisir ternyata tidak hanya terbatas di pulau Jawa saja. Disebabkan mobilitas para pedagang dan penyebar agama Islam yang tinggi, kegiatan tersebut juga menyebar ke luar Jawa seperti Palembang, Lampung, Banjarmasin dan Lombok. Pada abad ke-18 dan 19 M, dengan pindahnya pusat kebudayaan Jawa ke kraton Surakarta dan Yogyakarta, kegiatan penulisan sastra Pesisir juga berkembang di daerah-daerah Surakarta dan Yogyakara, serta tempat lain di sekitarnya seperti Banyumas, Kedu, Madiun dan Kediri (Pigeaud 1967:6-7)
Khazanah sastra Pesisir tidak kalah melimpahnya dibanding khazanah sastra Jawa Kuno. Khazanah tersebut meliputi karya-karya yang ditulis dalam bahasa Jawa Madya, Madura dan Jawa Baru, dan dapat dikelompokkan menurut jenis dan coraknya sebagaimana pengelompokan dalam sastra Melayu Islam, seperti berikut. (1) Kisah-kisah berkenaan dengan Nabi Muhammad s.a.w; (2) Kisah para Nabi, di Jawa disebut Serat Anbiya’. Dari sumber ini muncul kisah-kisah lepas seperti kisah Nabi Musa, Kisah Yusuf dan Zuleikha, Kisah Nabi Idris, Nuh, Ibrahim, Ismail, Sulaiman, Yunus, Isa dan lain-lain; (3) Kisah Sahabat-sahab
Oleh Abdul Hadi W. M.
Jawa Timur adalah propinsi tempat kediaman asal dua suku bangsa besar, yaitu Jawa dan Madura, dengan tiga sub-etnik yang memisahkan diri dari rumpun besarnya seperti Tengger di Probolinggo, Osing di Banyuwangi dan Samin di Ngawi. Dalam sejarahnya kedua suku bangsa tersebut telah labih sepuluh abad mengembangkan tradisi tulis dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pengalaman estetik mereka.
Kendati kemudian, yaitu pada akhir abad ke-18 M, masing-masing menggunakan bahasa yang jauh berbeda dalam penulisan kitab dan karya sastra – Jawa dan Madura – akan tetapi kesusastraan mereka memiliki akar dan sumber yang sama, serta berkembang mengikuti babakan sejarah yang sejajar. Pada zaman Hindu kesusastraan mereka satu, yaitu sastra Jawa Kuno yang ditulis dalam bahasa Kawi dan aksara Jawa Kuno. Setelah agama Islam tersebar pada abad ke-16 M bahasa Jawa Madya menggeser bahasa Jawa Kuno. Pada periode ini dua aksara dipakai secara bersamaan, yaitu aksara Jawa yang didasarkan tulisan Kawi dan aksara Arab Pegon yang didasarkan huruf Arab Melayu (Jawi).
Pigeaud (1967:4-7) membagi perkembangan sastra Jawa secara keseluruhan ke dalam empat babakan: (1) Zaman Hindu verlangsung pada abad ke-9 - 15 M. Puncak perkembangan sastra pada periode ini berlangsung pada zaman kerajaan Kediri (abad ke-11 dan 12 M, dilanjutkan dengan zaman kerajaan Singosari (1222-1292 M) dan Majapahit (1292-1478 M); (2) Zaman Jawa-Bali pad abad ke-16 - ke-19 M. Setelah Majapahit diruntuhkan kerajaan Demak pada akhir abad ke-15 M, ribuan pengikut dan kerabat raja Majapahit pindah ke Bali. Kegiatan sastra Jawa Kuno dilanjutkan di tempat tinggal mereka yang baru ini; (3) Zaman Pesisir berlangsung pada abad ke-15 -19 M. Pada zaman ini kegiatan sastra berpindah ke kota-kota pesisir yang merupakan pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam; (4) Zaman Surakarta dan Yogyakarta berlangsung pada abad ke-18 - 20 M. Pada akhir abad ke-18 M di Surakarta, terjadi renaisan sastra Jawa Kuno dipelopori oleh Yasadipura I. Pada masa itu karya-karya Jawa Kuno digubah kembali dalam bahasa Jawa Baru. Lebih kurang tiga dasawarsa kemudian, karya Pesisir juga mulai banyak yang disadur atau dicipta ulang dalam bahasa Jawa Baru di kraton Surakarta.
Khazanah Sastra Jawa Timur.
Khazanah sastra zaman Hindudan Islam Pesisir – dua zaman yang relevan bagi pembicaraan kita -- sama melimpahnya. Keduanya telah memainkan peran penting masing-masing dalam kehidupan dalam masyarakat Jawa dan Madura. Pengaruhnya juga tersebar luas tidak terbatas di Jawa, Bali dan Madura. Karya-karya Pesisir ini juga mempengaruhi perkembangan sastra di Banten, Palembang, Banjarmasin, Pasundan dan Lombok (Pigeaud 1967:4-8). Di antara karya Jawa Timur yang paling luas wilayah penyebarannya ialah siklus Cerita Panji. Versi-versinya yang paling awal diperkirakan ditulis menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15 M (Purbatjaraka, 1958). Cerita mengambil latar belakang di lingkungan kerajaan Daha dan Kediri. Versi roman ini, dalam bahasa-bahasa Jawa, Sunda, Bali, Madura, Melayu, Siam, Khmer dan lain-lain, sangat banyak. Dalam sastra Melayu terdapat versi yang ditulis dalam bentuk syair, yang terkenal di antaranya ialah Syair Ken Tambuhan dan Hikayat Andaken Penurat.
Tetapi bagaimana pun juga yang dipandang sebagai puncak perkembangan sastra Jawa Kuno ialah kakawin seperti Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa), Hariwangsa (Mpu Sedah), Bharatayudha (Mpu Sedah dan Mpu Panuluh), Gatotkacasraya (Mpu Panuluh), Smaradahana (Mpu Dharmaja), Sumanasantaka (Mpu Monaguna), Kresnayana (Mpu Triguna), Arjunawijaya (Mpu Tantular), Lubdhaka (Mpu Tanakung); atau karya-karya yang ditulis lebih kemudian seperti Negarakertagama (Mpu Prapanca), Kunjarakarna, Pararaton, Kidung Ranggalawe, Kidung Sorandaka, Sastra Parwa (serial kisah-kisah dari Mahabharata) dan lain-lain (Zoetmulder 1983: 80-478). Apabila sumber sastra Jawa Kuno terutama sekali ialah sastra Sanskerta, seperti diperlihatkan oleh puitika dan bahasanya yang dipenuhi kosa kata Sanskerta; sumber sastra Pesisir ialah sastra Arab, Parsi dan Melayu. Bahasa pun mulai banyak meminjam kosa kata Arab dan Parsi, terutama yang berhubungan dengan konsep-konsep keagamaan.
Kegiatan sastra Pesisir bermula di kota-kota pelabuhan Gresik, Tuban, Sedayu, Surabaya, Demak dan Jepara. Di kota-kota inilah komunitas-komunitas Muslim Jawa yang awal mulai terbentuk. Mereka pada umumnya terdiri dari kelas menengah yang terdidik, khususnya kaum saudagar kaya. Dari kota-kota ini kegiatan sastra Pesisir menyebar ke Cirebon dan Banten di Jawa Barat, dan ke Sumenep dan Bangkalan di pulau Madura. Pengaruh sastra Pesisir ternyata tidak hanya terbatas di pulau Jawa saja. Disebabkan mobilitas para pedagang dan penyebar agama Islam yang tinggi, kegiatan tersebut juga menyebar ke luar Jawa seperti Palembang, Lampung, Banjarmasin dan Lombok. Pada abad ke-18 dan 19 M, dengan pindahnya pusat kebudayaan Jawa ke kraton Surakarta dan Yogyakarta, kegiatan penulisan sastra Pesisir juga berkembang di daerah-daerah Surakarta dan Yogyakara, serta tempat lain di sekitarnya seperti Banyumas, Kedu, Madiun dan Kediri (Pigeaud 1967:6-7)
Khazanah sastra Pesisir tidak kalah melimpahnya dibanding khazanah sastra Jawa Kuno. Khazanah tersebut meliputi karya-karya yang ditulis dalam bahasa Jawa Madya, Madura dan Jawa Baru, dan dapat dikelompokkan menurut jenis dan coraknya sebagaimana pengelompokan dalam sastra Melayu Islam, seperti berikut. (1) Kisah-kisah berkenaan dengan Nabi Muhammad s.a.w; (2) Kisah para Nabi, di Jawa disebut Serat Anbiya’. Dari sumber ini muncul kisah-kisah lepas seperti kisah Nabi Musa, Kisah Yusuf dan Zuleikha, Kisah Nabi Idris, Nuh, Ibrahim, Ismail, Sulaiman, Yunus, Isa dan lain-lain; (3) Kisah Sahabat-sahab
at Nabi seperti Umar bin Khattab dan Ali bin
Abi Thalib; (4) Kisah Para Wali seperti Bayazid al-Bhiztami, Ibrahim
Adam dan lain-lain; (5) Hikayat Raja-raja dan Pahlawan Islam, seperti
Amir Hamzah, Muhammad Hanafiah, Johar Manik, Umar Umayya dan lain-lain.
Dalam sastra Jawa, Madura dan Sunda disebut Serat Menak, serial kisah
para bangsawan Islam; (6) Sastra Kitab, uraian mengenai ilmu-ilmu Islam
seperti tafsir al-Qur’an, hadis, ilmu fiqih, usuluddin, tasawuf, tarikh
(sejarah), nahu (tatabahasa Arab), adab (sastra Islam) dan lain-lain,
dengan menggunakan gaya bahasa sastra; (7) Karangan-karangan bercorak
tasawuf. Dalam bentuk puisi karangan seperti itu di Jawa disebut suluk.
Tetapi juga tidak jarang dituangkan dalam bentuk kisah perumpamaan atau
alegori. Dalam bentuk kisah perumpamaan dapat dimasukkan kisah-kisah
didaktis, di antaranya yang mengandung ajaran tasawuf; (7) Karya
Ketatanegaraan, yang menguraikan masalah politik dan pemerintahan,
diselingi berbagai cerit; (8) Karya bercorak sejarah; (9) Cerita
Berbingkai, di dalamnya termasuk fabel atau cerita binatang; (10) Roman,
kisah petualangan bercampur percintaan; (11) Cerita Jenaka dan Pelipur
Lara. Misalnya cerita Abu Nuwas (Ali Ahmad dan Siti Hajar Che’ Man:1996;
Pigeaud I 1967:83-7 ).
Yang relevan untuk pembicaraan ini ialah no.
6, karangan-karangan bercorak tasawuf dan roman yang sering digubah
menjadi alegori sufi. Karangan-karangan bercorak tasawuf disebut suluk
dan lazim ditulis dalam bentuk puisi atau tembang. Jumlah karya jenis
ini cukup melimpah. Contohnya ialah Kitab Musawaratan Wali Sanga, Suluk
Wali Sanga, Mustika Rancang, Suluk Malang Sumirang, Suluk Aceh, Suluk
Walih, Suluk Daka, Suluk Syamsi Tabris, Suluk Jatirasa, Suluk Johar
Mungkin, Suluk Pancadriya, Ontal Enom (Madura), Suluk Jebeng dan
lain-lain. Termasuk kisah perumpunaan dan didaktis ialah Sama’un dan
Mariya, Masirullah, Wujud Tuinggal, Suksma Winasa, Dewi Malika, Syeh
Majenun (Pigeaud I: 84-88). Agak mengejutkan juga karena dalam kelompok
ini ditemukan kisah didaktis berjudul Bustan, yang merupakan saduran
karya penyair Parsi terkenal abad ke-13 M, Syekh Sa’di al-Syirazi, yang
petikan sajak-sajaknya dalam bahasa Persia terdapat pada makam seorang
muslimah Pasai, Naina Husamuddin yang wafat pada abad ke-14 M.
Dalam
khazanah sastra Pesisir juga didapati karya ketatanegaraan dan
pemerintahan seperti Paniti Sastra dan saduran Tajus Salatin karya
Bukhari al-Jauhari (1603) dari Aceh. Saduran Taj al-Salatin dalam bahasa
Jawa ini ditulis dalam bentuk tembang. Karya-karya kesejarahan
tergolong banyak. Di antaranya ialah Babad Giri, Babad Gresik, Babad
Demak, Babad Madura, Babad Surabaya, Babad Sumenep, Babad Besuki, Babad
Sedayu, Babad Tuban, Kidung Arok, Juragan Gulisman (Madura) dan Kek
Lesap (Madura). Ada pun roman yang populer di antaranya ialah Certta
Mursada, Jaka Nestapa, Jatikusuma, Smarakandi, Sukmadi, sedangkan dari
Madura ialah Tanda Anggrek, Bangsacara Ragapadmi dan Lanceng Prabhan
(Ibid). Karya-karya Pesisir lain dari Madura yang terkenal ialah
Caretana Barakay, Jaka Tole, Tanda Serep, Baginda Ali, Paksi Bayan, Rato
Sasoce, Malyawan, Serat Rama, Judasan Arab, Menak Satip, Prabu Rara,
Rancang Kancana, Hokomollah, Pandita Rahib, Keyae Sentar, Lemmos, Raja
Kombhang, Sesigar Sebak, Sokma Jati, Rato Marbin, Murbing Rama, Barkan,
Malang Gandring, Pangeran Laleyan, Brangta Jaya dan lain-lain.
Penulis-penulis
Pesisir yang awal pada umumnya ialah para wali dan ahli tasawuf
terkemuka seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan
Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Panggung dan
Syekh Siti Jenar. Yang amat disayangkan ialah karena dalam daftar yang
terdapat dalam katalog-katalog naskah Jawa Timur, nama pengarang dan
penyalin teks jarang sekali disebutkan. Namun sejauh mengenai teks-teks
dari Madura, terdapat beberapa nama pengarang terkenal pada abad ke-17 –
19 M yang dapat dicatat. Misalny Abdul Halim (pengarang Tembang Bato
Gunung), Mohamad Saifuddin (pegarang Serat Hokomolla dan Nabbi Mosa),
Ahmad Syarif, R. H. Bangsataruna, Sasra Danukusuma, Umar Sastradiwirya
dan lain-lain (Abdul Hadi W. M. 1981).
Penelitian ini tidak akan membahas semua karya yang telah disebutkan, karena apabila dilakukan maka pembicaraan akan menjadi sangat luas. Supaya terfokus, pembicaraan akan ditumpukan pada suluk-suluk karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil, yang sedikit banyak mencerminkan kecenderungan umum sastra Pesisir awal. Beberapa alasan lain dapat dikemukakan di sini, sebagai berikut:
Pertama, Kajian terhadap karya Jawa Kuna telah banyak
dilakukan baik oleh sarjana Indonesia maupun asing, sedangkan karya
Pesisir masih sangat sedikit yang memberi perhatian. Padahal pengaruh
karya Pesisir itu tidak kecil terdahap kebudayaan masyarakat Jawa Timur.
Pengaruh tersebut meliputi bidang-bidang seperti metafisika, kosmologi,
etika, psikologi dan estetika, karena yang diungkapkan karya-karya
Pesisir itu mencakup persoalan-persoalan yang dibicarakan dalam
bidang-bidang tersebut.
Kedua, Selama beberapa dasawarsa Sunan Bonang
hanya dikenal sebagai seorang wali dan belum banyak yang membahas
karya-karya serta pemikirannya di bidang keruhanian, kebudayaan dan
agama. Kajian yang cukup mendalam sebagian besar dilakukan oleh sarjana
asing seperti Schrieke (1911), Kraemer (1921) dan Drewes (1967). Sarjana
Indonesia yang meneliti, namun tidak mendalam ialah Purbatjaraka
(1938). Selebihnya pembicaraan mengenai Sunan Bonang hanya menyangkut
kegiatannya sebagai wali penyebar agama Islam.
Ketiga, Suluk sebagai
karangan bercorak tasawuf yang disampaikan dalam bentuk tembang,
mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan spiritual masyarakat Jawa
Timur. Mengingkari peranan suluk dan sastra suluk adalah mengingkari
realitas budaya masyarakat Jawa Timur.
Keempat, Suluk-suluk Sunan
Bonang mencerminkan babakan sejarah yang penting dalam kebudayaan Jawa,
yaitu zaman peralihan dari Hindu ke Islam yang berlangsung secara damai.
Kelima,
Suluk-suluk tersebut merupakan karya bercorak tasawuf paling awal dalam
sejarah sastra Jawa secara umum dan pengaruhnya tidak kecil bagi
perkembangan sastra Pesisir.
Sunan Bonang Sebagai Pengarang
Sunan
Bonang diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-15 M dan wafat pada
awal abad ke-16 M. Ada yang memperkirakan wafat pada tahun 1626 atau
1630, ada yang memperkirakan pada tahun 1622 (de Graff & Pigeaud
1985:55). Dia adalah ulama sufi, ahli dalam berbagai bidang ilmu agama
dan sastra. Juga dikenal ahli falak, musik dan seni pertunjukan. Sebagai
sastrawan dia menguasai bahasa dan kesusastraan Arab, Persia, Melayu
dan Jawa Kuno. Nama aslinya ialah Makhdum Ibrahim. Dalam suluk-suluknya
dan dari sumber-sumber sejarah lokal ia disebut dengan berbagai nama
gelaran seperti Ibrahim Asmara, Ratu Wahdat, Sultan Khalifah dan
lain-lain (Hussein Djajadiningrat 1913; Purbatjaraka 1938; Drewes 1968).
Nama Sunan Bonang diambil dari nama tempat sang wali mendirikan
pesujudan (tempat melakukan `uzlah) dan pesantren di desa Bonang, tidak
jauh dari Lasem di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur sekarang ini.
Tempat ini masih ada sampai sekarang dan ramai diziarahi pengunjung
untuk menyepi, seraya memperbanyak ibadah seperti berzikir, mengaji
al-Qur’an dan tiraqat (Abdul Hadi W. M. 2000:96-107).
Kakeknya
bernama Ibrahim al-Ghazi bin Jamaluddin Husain, seorang ulama terkemuka
keturunan Turki-Persia dari Samarkand. Syekh Ibrahim al-Ghazi sering
dipanggil Ibrahim Asmarakandi (Ibrahim al-Samarqandi), nama takhallus
atau gelar yang kelak juga disandang oleh cucunya. Sebelum pindah ke
Campa pada akhir abad ke-14 M, Syekh Ibrahim al-Ghazi tinggal di Yunan,
Cina Selatan. Pada masa itu Yunan merupakan tempat singgah utama ulama
Asia Tengah yang akan berdakwah ke Asia Tenggara. Di Campa dia kawin
dengan seorang putri Campa keturunan Cina dari Yunan. Pada tahun 1401 M
lahirlah putranya Makhdum Rahmat, yang kelak akan menjadi masyhur
sebagai wali terkemuka di pulau Jawa dengan nama Sunan Ampel. Setelah
dewasa Rahmat pergi ke Surabaya,mengikuti jejak bibinya Putri Dwarawati
dari Campa yang diperistri oleh raja Majapahit Prabu Kertabhumi atau
Brawijaya V. Di Surabaya, ayah Sunan Bonang ini, mendapat tanah di
daerah Ampel, Surabaya, tempat dia mendirikan masjid dan pesantren. Dari
perkawinannya dengan seorang putri Majapahit, yaitu anak adipati Tuban,
Tumenggung Arya Teja, dia memperoleh beberapa putra dan putri. Seorang
di antaranya yang masyhur ialah Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang.
(Hussein Djajadiningrat 1983:23; Agus Sunyoto 1995::48).
Sejak muda
Makhdum Ibrahim adalah seorang pelajar yang tekun dan muballigh yang
handal. Setelah mempelajari bahasa Arab dan Melayu, serta berbagai
cabang ilmu agama yang penting seperti fiqih, usuluddin, tafsir Qur’,
hadis dan tasawuf; bersama saudaranya Sunan Giri dia pergi ke Mekkah
dengan singgah terlebih dahulu di Malaka, kemudian ke Pasai. Di Malaka
dan Pasai mereka mempelajari bahasa dan sastra Arab lebih mendalam.
Sejarah Melayu merekam kunjungan Sunan Bonang dan Sunan Giri ke Malaka
sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasai. Sepulang dar Mekkah, melalui
jalan laut dengan singgah di Gujarat, India, Sunan Bonang ditugaskan
oleh ayahnya ntuk memimpin masjid Singkal, Daha di Kediri (Kalamwadi
1990:26-30). Di sini dia memulai kariernya pertama kali sebagai
pendakwah.
Ketika masjid Demak berdiri pada tahun 1498 M Sunan Bonang untuk menjadi imamnya yang pertama. Dalam menjalankan tugasnya itu dia dibantu oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo dan wali yang lain. Di bawah pimpinannya masjid agung itu berkembang cepat menjadi pusat keagamaan dan kebudayaan terkemuka. Tetapi sekitar tahun 1503 M, dia berselisih paham dengan Sultan Demak dan memutuskan untuk meletakkan jabatannya sebagai imam masjid agung. Dari Demak Sunan Bonang pindah ke Lasem, dan memilih desa Bonang sebagai tempat kegiatannya yang baru. Di sini dia mendidirikan pesujudan dan pesantren. Beberapa karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil, mengambil latar kisah di pesujudannya ini. Di tempat inilah dia mengajarkan tasawuf kepada salah seorang muridnya, Wujil, seorang cebol namun terpelajar dan bekas abdi dalem kraton Majapahit (Abdul Hadi W. M. 2000:96-107).
Setelah cukup lama
tinggal di Bonang dan telah mendidik banyak murid, dia pun pulang ke
Tuban. Di sini dia mendirikan masjid besar dan pesantren, meneruskan
kegiatannya sebagai seorang muballigh, pendidik, budayawan dan sastrawan
terkemuka sehingga masa akhir hayatnya.
Dalam sejarah sastra Jawa
Pesisir, Sunan Bonang dikenal sebagai penyair yang prolifik dan penulis
risalah tasawuf yang ulung. Dia juga dikenal sebagai pencipta beberapa
tembang (metrum puisi) baru dan mengarang beberapa cerita wayang
bernafaskan Islam. Sebagai musikus dia menggubah beberapa gending
(komposisi musik gamelan) seperti gending Dharma yang sangat terkenal.
Di bawah pengaruh wawasan estetika sufi yang diperkenalkan para wali
termasuk Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, gamelan Jawa berkembang
menjadi oskestra polyfonik yang sangat meditatif dan kontemplatif. Sunan
Bonang pula yang memasukkan instrumen baru seperti rebab Arab dan
kempul Campa (yang kemudian disebut bonang, untuk mengabadikan namanya)
ke dalam susunan gamelan Jawa.
Karya-karya Sunan Bonang yang dijumpai
hingga sekarang dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) Suluk-suluk yang
mengungkapkan pengalamannya menempuh jalan tasawuf dan beberapa pokok
ajaran tasawufnya yang disampaikan melalui ungkapan-ungkapan simbolik
yang terdapat dalam kebudayaan Arab, Persia, Melayu dan Jawa. Di antara
suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk
Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri,
Gita Suluk Linglung, Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk
Wregol dan lain-lain (Drewes 1968). (2) Karangan prosa seperti Pitutur
Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi
dan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai sastra Arab
dan Persia.
Suluk-suluk Sunan Bonang
Sebagaimana telah
dikemukakan suluk adalah salah satu jenis karangan tasawuf yang dikenal
dalam masyarakat Jawa dan Madura dan ditulis dalam bentuk puisi dengan
metrum (tembang) tertentu seperti sinom, wirangrong, kinanti, smaradana,
dandanggula dan lain-lain . Seperti halnya puisi sufi umumnya, yang
diungkapkan ialah pengalaman atau gagasan ahli-ahli tasawuf tentang
perjalana keruhanian (suluk) yang mesti ditempuh oleh mereka yang ingin
mencpai kebenaran tertinggi, Tuhan, dan berkehendak menyatu dengan
Rahasia Sang Wujud. Jalan itu ditempuh melalui berbagai tahapan ruhani
(maqam) dan dalam setiap tahapan seseorang akan mengalami keadaan ruhani
(ahwal) tertentu, sebelum akhirnya memperoleh kasyf (tersingkapnya
cahaya penglihatan batin) dan makrifat, yaitu mengenal Yang Tunggal
secara mendalam tanpa syak lagi (haqq al-yaqin). Di antara keadaan
ruhani penting dalam tasawuf yang sering diungkapkan dalam puisi ialah
wajd (ekstase mistis), dzawq (rasa mendalam), sukr (kegairahan mistis),
fana’ (hapusnya kecenderungan terhadap diri jasmani), baqa’ (perasaan
kekal di dalam Yang Abadi) dan faqr (Abdul Hadi W. M. 2002:18-19).
.
Faqr adalah tahapan dan sekaligus keadaan ruhani tertinggi yang dicapai
seorang ahli tasawuf, sebagai buah pencapaian keadadaan fana’ dan baqa’.
Seorang faqir, dalam artian sebenarnya menurut pandangan ahli tasawuf,
ialah mereka yang demikian menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak
memiliki apa-apa, kecuali keyakinan dan cinta yang mendalam terhadap
Tuhannya. Seorang faqir tidak memiliki keterpautan lagi kepada segala
sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan ‘diri jasmani’ dan
hal-hal yang bersifat bendawi, tetapi tidak berarti melepaskan tanggung
jawabnya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Sufi Persia abad ke-13 M
menyebut bahwa jalan tasawuf merupakan Jalan Cinta (mahabbah atau
`isyq). Cinta merupakan kecenderungan yang kuat terhadap Yang Satu, asas
penciptaan segala sesuatu, metode keruhanian dalam mencapai kebenaran
tertinggi, jalan kalbu bukan jalan akal dalam memperoleh pengetahuan
mendalam tentang Yang Satu (Ibid).
Sebagaimana puisi para sufi secara
umum, jika tidak bersifat didaktis, suluk-suluk Sunan Bonang ada yang
bersifat lirik. Pengalaman dan gagasan ketasawufan yang dikemukakan,
seperti dalam karya penyair sufi di mana pun, biasanya disampaikan
melalui ungkapan simbolik (tamsil) dan ungkapan metaforis
(mutasyabihat). Demikian dalam mengemukakan pengalaman keruhanian di
jalan tasawuf, dalam suluk-suluknya Sunan Bonang tidak jarang
menggunakan kias atau perumpamaan, serta citraan-citraan simbolik.
Citraan-citraan tersebut tidak sedikit yang diambil dari budaya lokal.
Kecenderungan tersebut berlaku dalam sastra sufi Arab, Persia, Turki,
Urdu, Sindhi, Melayu dan lain-lain, dan merupakan prinsip penting dalam
sistem sastra dan estetika sufi (Annemarie Schimmel 1983: ) Karena
tasawuf merupakan jalan cinta, maka sering hubungan antara seorang salik
(penempuh suluk) dengan Yang Satu dilukiskan atau diumpamakan sebagai
hubungan antara pencinta (`asyiq) dan Kekasih (mahbub, ma`syuq).
Drewes
(1968, 1978) telah mencatat sejumlah naskah yang memuat suluk-suluk
yang diidentifikasikan sebagai karya Sunan Bonang atau Pangeran Bonang,
khususnya yang terdapat di Museum Perpustakaan Universitas Leiden, dan
memberi catatan ringkas tentang isi suluk-suluk tersebut. Penggunaan
tamsil pencinta dan Kekasih misalnya terdapat dalam Gita Suluk Latri
yang ditulis dalam bentuk tembang wirangrong. Suluk ini menggambarkan
seorang pencinta yang gelisah menunggu kedatangan Kekasihnya. Semakin
larut malam kerinduan dan kegelisahannya semakin mengusiknya, dan
semakin larut malam pula berahinya (`isyq) semakin berkobar. Ketika
Kekasihnya datang dia lantas lupa segala sesuatu, kecuali keindahan
wajah Kekasihnya. Demikianlah sestelah itu sang pencinta akhirnya hanyut
dibawa ombak dalam lautan ketakterhinggaan wujud.
Dalam Suluk
Khalifah Sunan Bonang menceritakan kisah-kisah kerohanian para wali dan
pengalaman mereka mengajarkan kepada orang yang ingin memeluk agama
Islam. Suluk ini cukup panjang. Sunan Bonang juga menceritakan
pengalamannya selama beradadi Pasai bersama guru-gurunya serta
perjalanannya menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Karya yang tidak kalah
penting ialah Suluk Gentur atau Suluk Bentur. Suluk ini ditulis di dalam
tembang wirangrong dan cukup panjang.
Gentur atau bentur berarti
lengkap atau sempruna. Di dalamnya digambarja jalan yang harus ditempuh
seorang sufi untuk mencapai kesadaran tertiggi. Dalam perjalanannya itu
ia akan berhadapan dengan maut dan dia akan diikuti oleh sang maut
kemana pun ke mana pun ia melangkah. Ujian terbesar seorang penempuh
jalan tasawuf atau suluk ialah syahadat dacim qacim. Syahadat ini berupa
kesaksian tanpa bicara sepatah kata pun dalam waktu yang lama, sambil
mengamati gerik-gerik jasmaninya dalam menyampaikan isyarat kebenaran
dan keunikan Tuhan. Garam jatuh ke dalam lautan dan lenyap, tetapi tidak
dpat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang ke dalam kekosongan
(suwung). Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana’ tidak
lantas tercerap dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap ialah kesadaran akan
keberadaan atau kewujudan jasmaninya.
Dalam suluknya ini Sunan Bonang
juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah fana’ ruh
idafi, iaitu ‘keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala
bentuk lahir dan gejala lahir, yang di dalamnya kesadaran intuititf atau
makrifat menyempurnakan penghlihatannya tentang Allah sebagai Yang
Kekal dan Yang Tunggal’. Pendek kata dalam fana’ ruh idafi seseorang
sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat al-qur`an 28:88, “Segala
sesuatu binasa kecuali Wajah-Nya”. Ini digambarkan melalui peumpamaan
asyrafi (emas bentukan yang mencair dan hilang kemuliannya, sedangkan
substansinya sebagai emas tidak lenyap. Syahadat dacim qacim adalah
kurnia yang dilimpahkan Tuhan kepada seseorang sehingga ia menyadari dan
menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan (sapakarya). Menurut
Sunan Bonang, ada tiga macam syahadat:
1. Mutawilah (muta`awillah di dalam bahasa Arab)
2. Mutawassitah (Mutawassita)
3. Mutakhirah (muta`akhira)
Yang pertama syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia iaitu dari Hari Mitsaq (Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat al-Qur`an 7: 172, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna). Yang ke dua ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengucap “Tiada Tuhan selain allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”. Yang ketiga adalah syahadat yang diucapkan para Nabi, Wali dan Orang Mukmin sejati. Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat dimpamakan seperti kesatuan transenden antara tidakan menulis, tulisan dan lembaran kertas yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan sperti gelas, isinya dan gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening sedang gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang merupakan tempat kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih, tulus dan jujur.
Di
dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah tindakan
cahaya-Nya yang melihat. Artinya dalam melakukan perbuatan apa saja
seorang mukmin senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan,
yang menyebabkannya tidak lalai menjalankan perintah agama.. Perumpamman
ini dapat dirujuk kepada perumpamaan seupa di dalam Futuh al-Makkiyah
karya Ibn `Arabi dan Lamacat karya `Iraqi.
Karya Sunan Bonang juga
unik ialah Gita Suluk Wali, untaian puisi-puisi lirik yang memikat.
Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu seperti
laut pasang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu sampai
hangus. Untaian puisi-puisi ini diakhiri dengna pepatah sufi “Qalb
al-mucmin bait Allah” (Hati seorang mukmin adalah tempat kediaman
Tuhan).
Suluk Jebeng. Ditulis dalam tembang Dhandhanggula dan dimulai
dengan perbimcanganmengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di
bumi dan bahawasanya manusia itu dicipta menyerupai gambaran-Nya
(mehjumbh dinulu). Hakekat diir yang sejati ini mesti dikenal supaya
perilaku dan amal perubuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran.
Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara.
Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh
di dalam tubuh sperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara,
sinar, nyala, panas dan asapnya. Ruh dihubungkan dengan wujud
tersembunyi, yang pemunculan dan kelenyapannya tidak mudah diketahui.
Ujar Sunan Bonang:
Puncak ilmu yang sempurna
Seperti api berkobar
Hanya bara dan nyalanya
Hanya kilatan cahaya
Hanya asapnya kelihatan
Ketauilah wujud sebelum api menyala
Dan sesudah api padam
Karena serba diliputi rahsia
Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?
Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
Berlindunglah semata kepada-Nya
Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh
Jangan bertanya
Jangan memuja nabi dan wali-wali
Jangan mengaku Tuhan
Jangan mengira tidak ada padahal ada
Sebaiknya diam
Jangan sampai digoncang
Oleh kebingungan
Pencapaian sempurna
Bagaikan orang yang sedang tidur
Dengan seorang perempuan, kala bercinta
Mereka karam dalam asyik, terlena
Hanyut dalam berahi
Anakku, terimalah
Dan pahami dengan baik
Ilmu ini memang sukar dicerna
Satu-satunya karangan prosa Sunan Bonang yang dapat diidentifikasi sampai sekarang ialah Pitutur Seh Bari. Salah satu naskah yang memuat teks karangan prosa Sunan Bonang ini ialah MS Leiden Cod. Or. 1928. Naskah teks ini telah ditransliterasi ke dalam tulisan Latin, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Schrieke dalam disertasi doktornya Het Boek van Bonang (1911). Hoesein Djajadiningrat juga pernah meneliti dan mengulasnya dalam tulisannya ”Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten” (1913). Terakhir naskah teks ini ditransliterasi dan disunting oleh Drewes, dalam bukunya The Admonotions of Seh Bari (1978), disertai ulasan dan terjemahannya dalam bahasa Inggris.
Kitab ini ditulis
dalam bentuk dialog atau tanya-jawab antara seorang penuntut ilmu suluk,
Syaful Rijal, dan gurunya Syekh Bari. Nama Syaiful Rijal, yang artinya
pedang yang tajam, biasa dipakai sebagai julukan kepada seorang murid
yang tekun mempelajari tasawuf (al-Attas 1972). Mungkin ini adalah
sebutan untuk Sunan Bonang sendiri ketika menjadi seorang penuntut ilmu
suluk. Syekh Bari diduga adalah guru Sunan Bonang di Pasai dan berasal
dari Bar, Khurasan, Persia Timur Daya (Drewes 1968:12). Secara umum
ajaran tasawuf yang dikemukakan dekat dengan ajaran dua tokoh tasawuf
besar dari Persia, Imam al-Ghazali (w. 1111 M) dan Jalaluddin al-Rumi
(1207-1273 M). Nama-nama ahli tasawuf lain dari Persia yang disebut
ialah Syekh Sufi (mungkin Harits al-Muhasibi), Nuri (mungkin Hasan
al-Nuri) dan Jaddin (mungkin Junaid al-Baghdadi). Ajaran ketiga tokoh
tersebut merupakan sumber utama ajaran Imam al-Ghazali (al-Taftazani
1985:6). Istilah yang digunakan dalam kitab ini, yaitu ”wirasaning ilmu
suluk” (jiwa atau inti ajaran tasawuf) mengingatkan pada pernyataan Imam
al-Ghazali bahwa tasawuf merupakan jiwa ilmu-ilmu agama.
Suluk Wujil
Di
antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal dan relevan bagi
kajian ini ialah Suluk Wujil. Dari segi bahasa dan puitika yang
digunakan, serta konteks sejarahnya dengan perkembangan awal sastra
Pesisir, SW benar-benar mencerminkan zaman peralihan Hindu ke Islam
(abad ke-15 dan 16 M) yang sangat penting dalam sejarah Jawa Timur. Teks
SW dijumpai antara lain dalam MS Bataviasche Genotschaft 54 (setelah RI
merdeka disimpan di Museum Nasional, kini di Perpustakaan Nasional
Jakarta) dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dilakukan oleh
Poerbatjaraka dalam tulisannya ”De Geheime Leer van Soenan Bonang
(Soeloek Woedjil)” (majalah Djawa vol. XVIII, 1938). Terjemahannya dalam
bahasa Indonesia pernah dilakukan oleh Suyadi Pratomo (1985), tetapi
karena tidak memuaskan, maka untuk kajian ini kami berusaha
menerjemahkan sendiri teks hasil transliterasi Poerbatjaraka.
Sebagai
karya zaman peralihan Hindu ke Islam, pentingnya karya Sunan Bonang ini
tampak dalam hal-hal seperti berikut: Pertama, dalam SW tergambar
suasana kehidupan badaya, intelektual dan keagamaan di Jawa pada akhir
abad ke-15, yang sedang beralih kepercayaan dari agama Hindu ke agama
Islam. Di arena politik peralihan itu ditandai denga runtuhnya
Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa, dan bangunnya kerajaan
Demak, kerajaan Islam pertama. Demak didirikan oleh Raden Patah, putera
raja Majapahit Prabu Kertabumi atau Brawijaya V daripada perkawinannya
dengan seorang puteri Cina yang telah memeluk Islam. Dengan runtuhnya
Majapahit terjadilah perpindahan kegiatan budaya dan intelektual dari
sebuah kerajaan Hindu ke sebuah kerajaan Islam dan demikian pula tata
nilai kehidupan masyarakat pun berubah.
Di lapangan sastra peralihan
ini dapat dilihat dengan berhentinya kegiatan sastera Jawa Kuna setelah
penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung, meninggal
dunia pda pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat. Kegiatan
pendidikan pula mula beralih ke pusat-pusat baru di daerah pesisir. Dari
segi bahasa suluk ini memperlihatkan “keanehan-keanehan bahasa Jawa
Kuna zaman Hindu” (Purbatjaraka: 1938) karena memang ditulis pada zaman
permulaan munculnya bahasa Jawa Madya. Dari segi puitika pula, cermin
zaman peralihan begitu ketara. Penulisnya menggunakan tembang Aswalalita
yang agak menyimpang, selain tembang Dhandhanggula. Aswalalita adalah
metrum Jawa Kuna yang dicipta berdasarkan puitika Sanskerta. Setelah
wafatnya Sunan Bonang tembang ini tidak lagi digunakan oleh para penulis
tembang di Jawa.
Sunan Bonang sebagai seorang penulis Muslim awal
dalam sastra Jawa, menunjukkan sikap yang sangat berbeda dengan para
penulis Muslim awal di Sumatra. Yang terakhir sudah sejak awal kegiatan
kreatifnya menggunakan huruf Jawi atau Arab Melayu, sedangkan Sunan
Bonang dan penulis-penulis Muslim Jawa yang awal masih menggunakan huruf
Jawa, dan baru ketika agama Islam telah tersebar luas huruf Arab
digunakan untuk menulis teks-teks berbahasa Jawa. Dalam penulisan
puisinya, Sunan Bonang juga banyak menggunakan tamsil-tamsil yang tidak
asing dalam kebudayaan Jawa pada masa itu. Misalnya tamsil wayang,
dalang dan lakon cerita pewayangan seperti Perang Bharata antara Kurawa
dan Pandawa. Selain itu dia juga masih mempertahankan penggunaan bentuk
tembang Jawa Kuno, yaitu aswalalita, yang didasarkan pada puitika
Sanskerta. Dengan cara demikian, kehadiran karyanya tidak dirasakan
sebagai sesuatu yang asing bagi pembaca sastra Jawa, malahan
dipandangnya sebagai suatu kesinambungan.
Kedua, pentingnya Suluk
Wujil karena renungan-renungannya tentang masalah hakiki di sekitar
wujud dan rahasia terdalam ajaran agama, memuaskan dahaga kaum
terpelajar Jawa yang pada umumnya menyukai mistisisme atau metafisika,
dan seluk beluk ajaran keruhanian. SW dimulai dengan pertanyaan
metafisik yang esensial dan menggoda sepanjang zaman, di Timur maupun
Barat:
1
Dan warnanen sira ta Pun Wujil
Matur sira ing sang Adinira
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat Panenggrane
Samungkem ameng Lebu?
Talapakan sang Mahamuni
Sang Adhekeh in Benang,
mangke atur Bendu
Sawetnya nedo jinarwan
Saprapating kahing agama kang sinelit
Teka ing rahsya purba
2
Sadasa warsa sira pun Wujil
Angastupada sang Adinira
Tan antuk warandikane
Ri kawijilanipun
Sira wujil ing Maospait
Ameng amenganira
Nateng Majalanggu
Telas sandining aksara
Pun Wujil matur marang Sang Adi Gusti
Anuhun pangatpada
3
Pun Wujil byakteng kang anuhun Sih
Ing talapakan sang Jati Wenang
Pejah gesang katur mangke
Sampun manuh pamuruh
Sastra Arab paduka warti
Wekasane angladrang
Anggeng among kayun
Sabran dina raraketan
Malah bosen kawula kang aludrugi
Ginawe alan-alan
4
Ya pangeran ing sang Adigusti
Jarwaning aksara tunggal
Pengiwa lan panengene
Nora na bedanipun
Dening maksih atata gendhing
Maksih ucap-ucapan
Karone puniku
Datan polih anggeng mendra-mendra
Atilar tresna saka ring Majapait
Nora antuk usada
5
Ya marma lunganging kis ing wengi
Angulati sarasyaning tunggal
Sampurnaning lampah kabeh
Sing pandhita sundhuning
Angulati sarining urip
Wekasing jati wenang
Wekasing lor kidul
Suruping radya wulan
Reming netra lalawa suruping pati
Wekasing ana ora
Artinya, lebih kurang:
1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Ssampai rahsia terdalam
2
Sepuluh tahun lamanya
Sudah Wujil
Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf
3
“Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang
4
Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar
5
Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada
Pertanyaan-pertanyaan Wujil kepada gurunya merupakan pertanyaan universal dan eksistensial, serta menukik hingga masalah paling inti, yang tidak bisa dijawab oleh ilmu-ilmu lahir. Terbenamnya matahari dan bulan, akhir utara dan selatan, berkaitan dengan kiblar dan gejala kehidupan yang senantiasa berubah. Jawabannya menghasilkan ilmu praktis dan teoritis seperti fisika, kosmologi, kosmogeni, ilmu pelayaran, geografi dan astronomi. Kapan mata tertutup berkenaan dengan pancaindra dan gerak tubuh kita. Sadar dan tidak sadar, bingung dan gelisah, adalah persoalan psikologi. Ada dan tiada merupakan persoalan metafisika. Setiap jawaban yang diberikan sepanjang zaman di tempat yang berbeda-beda, selalu uni, sebagaimana pertanyaan terhadap hakikat hidup dan kehidupan. Lantas apakah dalam hidupnya manusia benar-benar menguasai dirinya dan menentukan hidupnya sendiri? Siapa kuasa sejati itu? Persoalan tentang rahasia Yang Satu akan membawa orang pada persoalan tentang Yang Abadi, Yang Maha Hidup, Wujud Mutlak yang ada-Nya tidak tergantung pada sesuatu yang lain.
Tampaknya pertanyaan itu memang ditunggu oleh Sunan
Bonang, sebab hanya melalui pertanyaan seperti itu dia dapat menyingkap
rahasia ilmu tasawuf dan relevansinya, kepada Wujil. Maka Sunan Bonang
pun menjawab:
6
Sang Ratu Wahdat mesem ing lathi
Heh ra Wujil kapo kamangkara
Tan samanya pangucape
Lewih anuhun bendu
Atunira taha managih
Dening geng ing sakarya
Kang sampun alebu
Tan padhitane dunya
Yen adol warta tuku warta ning tulis
Angur aja wahdat
7
Kang adol warta tuhu warti
Kumisum kaya-kaya weruha
Mangke ki andhe-andhene
Awarna kadi kuntul
Ana tapa sajroning warih
Meneng tan kena obah
Tinggalipun terus
Ambek sadu anon mangsa
Lirhantelu outihe putih ing jawi
Ing jro kaworan rakta
8
Suruping arka aganti wengi
Pun Wujil anuntu maken wraksa
Badhi yang aneng dagane
Patapane sang Wiku
Ujung tepining wahudadi
Aran dhekeh ing Benang
Saha-saha sunya samun
Anggaryang tan ana pala boga
Ang ing ryaking sagara nempuki
Parang rong asiluman
9
Sang Ratu Wahdat lingira aris
Heh ra Wujil marangke den enggal
Tur den shekel kukuncire
Sarwi den elus-elus
Tiniban sih ing sabda wadi
Ra Wujil rungokna
Sasmita katenggun
Lamun sira kalebua
Ing naraka isung dhewek angleboni
Aja kang kaya sira
... 11
Pangestisun ing sira ra Wujil
Den yatna uripira neng dunya
Ywa sumambar angeng gawe
Kawruhana den estu
Sariranta pon tutujati
Kang jati dudu sira
Sing sapa puniku
Weruh rekeh ing sariri
Mangka saksat wruh sira
Maring Hyang Widi
Iku marga utama
Artinya lebih kurang:
6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tiggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat
7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namuni isinya berwarna kuning
8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan
9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasihsayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”
...
11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”
Dalam bait-bait yang telah dikutip dapat kita lihat bahwa pada permulaan suluknya Sunan Bonang menekankan bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda. Tetapi karena manusia adalah gambaran Tuhan, maka ’pengetahuan diri’ dapat membawa seseorang mengenal Tuhannya. ’Pengetahuan diri’ di sini terangkum dalam pertanyaan: Apa dan siapa sebenarnya manusia itu? Bagaimana kedudukannya di atas bumi? Dari mana ia berasal dan kemana ia pergi setelah mati? Pertama-tama, ‘diri’ yang dimaksud penulis sufi ialah ‘diri ruhani’, bukan ‘diri jasmani’, karena ruhlah yang merupakan esensi kehidupan manusia, bukan jasmaninya. Kedua kali, sebagaimana dikemukakan dalam al-Qur’an, surat al-Baqarah, manusia dicipta oleh Allah sebagai ‘khalifah-Nya di atas bumi’ dan sekaligus sebagai ‘hamba-Nya’. Itulah hakikat kedudukan manusia di muka bumi. Ketiga, persoalan dari mana berasal dan kemana perginya tersimpul dari ucapan ”Inna li Allah wa inna li Allahi raji’un” (Dari Allah kembali ke Allah).
Demikianlah
sebagai karya bercorak tasawuf paling awal dalam sastra Jawa, kedudukan
Suluk Wujil dan suluk-suluk Sunan Bonang yang lain sangatlah penting.
Sejak awal pengajarannya tentang tasawuf, Sunan Bonang menekankan bahwa
konsep fana’ atau persatuan mistik dalam tasawuf tidak mengisyaratkan
kesamaan manusia dengan Tuhan, yaitu yang menyembah dan Yang Disembah.
Seperti
penyair sufi Arab, Persia dan Melayu, Sunan Bonang – dalam
mengungkapkan ajaran tasawuf dan pengalaman keruhanian yang dialaminya
di jalan tasawuf – menggunakan baik simbol (tamsil) yang diambil dari
budaya Islam universal maupun dari budaya lokal. Tamsil-tamsil dari
budaya Islam universal yang digunakan ialah burung, cermin, laut, Mekkah
(tempat Ka’bah atau rumah Tuhan) berada, sedangkan dari budaya lokal
antara lain ialah tamsil wayang, lakon perang Kurawa dan Pandawa (dari
kisah Mahabharata) dan bunga teratai. Tamsil-tamsil ini secara berurutan
dijadikan sarana oleh Sunan Bonang untuk menjelaskan tahap-tahap
perjalanan jiwa manusia dalam upaya mengenal dirinya yang hakiki, yang
melaluinya pada akhirnya mencapai makrifat, yaitu mengenal Tuhannya
secara mendalam melalui penyaksian kalbunya.
source:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar