Sabtu, 24 Agustus 2013

martabat tujuh

1. Merupakan hakekat Dzat mutlak yang kadim. Artinya; hakekat Dzat yang lebih dulu, yaitu Dzatullah, yang menjadi wahana alam Ahadiyat yang ada adalah pohon kehidupan yang berada dalam jagad yang sunyi senyap segalanya, dan belum ada sesuatu apapun
2. Hakekatnya cahaya, yang diakui sebagai tajalinya Dzat di dalam nukat gaib, sebagai sifatnya Atma, menyebabkan adanya alam Wahdat
3. Diakui sebagai rahsa Dzat, sebagai namaNya, menyebabkan adanya alam Wahadiyat
4. Berasal dari nur muhammad, itulah hakekat Sukma yang diakui sebagai keadaan Dzat sebagai tabirnya Atma, menyebabkan adanya alam Arwah
5. Keadaan nur muhammad dan tempat berkumpulnya darah seluruhnya adalah hakekat angan-angan yang diakui sebagai bayangan Dzat, sebagai ikatannyaNya, menyebabkan adanya alam Mitsal
6. Hakekat Budi, diakui sebagai hiasannya Dzat, sebagai pintunya Atma, menyebabkan adanya alam Ajsam
7. Hakekat Jasad yang meliputi 5 warna yang bergerak , yang diakui sebagai Wahana Dzat, sebagai tempat Atma, menyebabkan adanya alam Insan Kamil
Selanjutnya tentang Kenyataan dalam alam Hukmi ;
1. Alam Ruhiyah – alam nyawa
2. Alam Sirriyah – alam perwujudan budi ( jasad) dan disinilah adanya 4 nafsu inti ; – Lawwammah cahayanya hitam disebut alam Nasut
- Amarah cahayanya merah disebut alam Jabarut ( antara lain khodam ada disini )
- Sufiah cahayanya kuning disebut alam Latut
- Muthmainah cahayanya putih disebut alam Malakut
3. Alam Nurriyah-alam cahaya
4. Alam Uluhiyah-alam Ke-Tuhanan
Dalam proses perjalanannya adalah dengan 2 cara yaitu ;
Taraqih ( Mendaki ) :
1 Semua orang mengandalkan kemampuannya sendiri2 baik mulai dari mengandalkan muka, suara, ilmu pengetahuan atau fisiknya untuk mendapatkan uang atau materi, jelas sudah bahwa kita selama ini disibukkan dengan urusan2 fisik sehingga makin tebal saja untuk dapat melihat Tuhan, maka dapat dikatakan kebanyakan manusia terhijab pandangannya untuk melihat Tuhan oleh dinding yang paling Luar atau alam Ajsam ini
2. Manusia adalah makhluk yg berjiwa dan diberikan akal dan hatinya sehingga lebih maju daripada manusia yang sekedar mengandalkan fisik saja, namun Tuhan memberikan akal dan hati inipun rupanya bertingkat2. Kerja akal yang paling bawah adalah ‘aql atau akal dalam al qur’an afalaa ta’qiluun. Kerja akal adalah memikirkan sesuatu yang bersifat kealaman, dan dgn akal ini akan ditemukan kebenaran dan kesalahan serta kebaikan dan keburukan dalam perspektif duniawi. Demikan juga kerja hati, ia memiliki beberapa tingkatan , yg terendah adalah qalb atau hati yang selalu berbolak-balik, kadang baik kadang buruk…dan orang yang biasa menggunakan ‘aql dan qalb ini cenderung akan serakah pada dunia. Inilah hijab yang lebih tipis dibanding dengan fisik. Lebih tinggi lagi bila manusia bisa mengaktifkan akal kedua yaitu fikr ( Ta’ala afalaa tatafakkaruun )yang akhirnya dapat menjangkau hal2 yang tak tampak di dunia ini. Islam diturunkan dengan membawa kabar gembira juga membawa peringatan kepada manusia tentang adanya siksa yang pedih di akhirat kelak. Kebanyakan manusia sulit untuk dapat mengenalTuhan secara sempurna, maka Rasulullaah Muhammad SAW al mustafa diutus memberikan jalan tengah agar mereka menyembah Tuhan sesuai kemampuannya, adanya sorga neraka adalah merupakan motivasi agar mereka menyembah Tuhan. Sayyidina Ali menyebut manusia seperti itu sebagai pedagang yaitu hanya menyembah Tuhan jika diancam dgn neraka dan dijanjikan sorga sebagai hadiah, dan dgn fikr-nya yg sudah terbuka lebih baik dari pada mereka yang masih terkungkung nafsu dan sudah memasuki pengenalan alam Mitsal
3. Selanjutnya manusia diharapkan mengenal rohnya (nyawa), inilah nyawa yg membuat jasmani dan jiwa menjadi hidup, jasmani tidak akan dapat bergerak bila tida dapat perintah dari jiwa, dan jiwa tdk dpt memberi perintah pada gerakan jasmani jika tidak terdapat roh di dalamnya. Ketika sdg tidur, manusia tidak bergerak dan tidak merasakan sesuatu karena jiwanya keluar dari jasad, namun ia tetap dikatakan hidup karena rohnya masih ada dalam jasad. Dalam al qur’an, Tuhan meniupkan roh manusia ini yang berasal dari roh-Nya. Roh berasal dari Tuhan secara langsung adapun jasmani hanyalah gambaran maya saja dan bisa enjadi penghalang bagi manusia yang tidak mampu menangkap rahasia diciptakannya jasmani tersebut. Mengenal Tuhanpun dapat dilakukan melalui jasmani dengan menganggapnya sebagai gambaran dari Wajah Tuhan, adapun Dzat sesungguhnya adalah dalam Rahsa, sedangkan jiwa adalah gambaran dari perbuatan, nama dan sifat Tuhan, sama seperti alam semesta ini juga sebagai tajaliNya
4. Roh manusia satu dan roh manusia lainnya juga satu, karena dari sumber yang satu yang bersumber dari Nur Muhammad dalam alam Wahidiyat dan roh manusia ini hanyalah titipan kecil dari Roh Agung kepada roh kecil di dunia
5. Roh Agung pada Martabat Wahdah ini bukan lagi sebagai makhluk, namun lebh dekat dengan sifat keTuhanan, Dia adalah satu namun bukan Tuhan namun bukan lagi makhluk dan tidak berkaitan dengan mahkluk
6. Bila kita dapat menggulung semuanya menjadi satu termasuk sifat Hayyun atau Maha hidup dalam Martabat Wahdah maka akan timbul Dzatullah
7. Tiada bernama, berawal-berakhir, tiada bertepi dan keberadaanNya tak dapat dijangkau dengan nama
Tanazul ( Menurun ) :
1. Dzat Tuhan yang tidak bernama, karena tidak satupun yang mampu mewakili KeberadaanNya, tiada berawal dan berakhir serta Maha Esa, tidak ada yang dapat mengenalNya karena tidak ada yang lain selain diriNya, Dia berkeinginan menciptakan makhluk agar makhluk itu mengenalNya…Penampakan Tuhan ini berjalan menurun, dan penurunan petama yang Dia lakukan adalah sebagai Nur Muhammad atau sering disebut Allah dan ini hanya sebuah nama untuk menyebut diri Tuhan, padahal sejatinya Dia tak dapat dijangkau dengan nama
2. Penurunan ini bukan berarti bahwa Tuhan ada 2, Dia hanya menampakkan Diri dalam kualitas menurun agar lebih mudah di kenal karena Dzat Tuhan terlalu suci untuk dikenal, jadi nama adalah jembatan agar Dia mudah untuk dikenal inilah Martabat Wahdah
3. Tetap dengan penurunan Diri dengan nama Allah ini pun masih sulit dikenal secara mudah, maka Tuhan menurunkan Diri lagi menjadi bersifat kemakhlukan, yakni Nur Muhammad yang tidak lagi bernama Allah dan dalam tahap ini bersifat mendua atau berpasang-pasangan sebagai cikal bakal penciptaan alam semesta dan tahapan ini biasa disebut dengan Martabat Wahidiyat
4. Dari Nur Muhammad yang bersifat kemakhlukan ini terurai menjadi bagian2 halus yang belum tampak. Itulah roh2 atau alam arwah, roh merupakan sumber kehidupan bagi tiap2 benda. Kehidupan merupakan syarat mutlak bagi makhluk untuk dapat mengenal Tuhan
5. Sumber kehidupan berupa roh tersebut tidak akan mampu mewakili keinginan Tuhan jika tidak disertai sarana atau wadah. Dalam alam Mitsal ini manusia sudah ada namun masih berbentuk jiwa. Ia belum memiliki raga, selanjutnya Tuhan menampakkan DzatNya sebagai wadah perbuatan, nama dan sifatNya, sehingga muncullah alam Ajsam
6. Tuhan menampakkan diri secara menyeluruh, Raga adalah perwujudan Rupa DiriNya, perbuatan nama dan sifat alam semesta adalah WajahNya, semuanya terbungkus sifat kemakhlukan yang serba mendua
7. Setelah mengetahui hakikat diri secara menurun, maka tahulah bahwa alam semesta hakikatNya adalah gambaran Rupa Tuhan
Jakarta, Jum’at legi, 19 Desember 2008
pukul ; 09.11 – by Satmata

2 Comments:

  • Salamun alaikum
    Prabu Satmata (Kyai Satmata)
    Alhamdulillah kami senang menemukan Samudera Hening dan ikut memahami kata demi kata yang sangat dalam dan menyentuh. masih banyak orang yang anti Martabat Tujuh apalagi mau memahami dan mengkaji kebenaranNya. kami sadar hanya orang-orang yang dikehendaki Allah sajalah yang mau menerima dan meyakini. terimakasih mas smoga Samudera Hening bermanfaat bagi penempuh jalan lurus. yaitu masuk kedalam diri bukan keluar diri/diluar diri sehingga bisa memmperoleh Suara dan CahayaNya dengan sempurna.
    Salam Cahaya
    Nur Khabib
    NB. Untuk pemahaman yang lengkap bagi kami
    mohon kata sandi untuk membuka Samudera Hening, terima kasih.
  • radens maulana kholis
    Asalamualaikum Wr wb .. Ki satmata salam ruhany muga muga Allah Yang Agung ngerido’i semua yag ada dalam catatan ki satmata .. ingsya Allah manfaatnya besar ,, ni ermasuk ilmu langka karena orang2 saat ini telah buta hati untuk melhat yang Haq… alhamdulillah adens telah di pertemukaan dengan bahasan sprti ini , sy memohon izin untuk membaca dan memahami bahasan ini,,,adens mhn bimbinganya supaya sajdatining syahadat oleh adens dapat di temui amiin ..

Tinggalkan Balasan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.
Bergabunglah dengan 223 pengikut lainnya.

cahaya kehidupan


Merupakan cahaya hidup yang berwujud seperti putaran waktu  atau daya kekuatan hidup yang berputar sepanjang masa atau disebut sebagai Pancamaya( lima cahaya ).

Cahaya hidup manusia yang berbentuk Pancamaya yakni : 1. hitam, 2 merah, 3. kuning, 4. putih, 5. abramarkata (gemerlapan)
Dan setiap orang akan mempunyai dominan warna yang berbeda karena tergantung cahaya paling kuat yang sebagai bakat/ kekuatan. Empat warna hitam, merah, kuning dan putih adalah perlambang hawa nafsu, yaitu ; hitam yang menggambarkan watak nafsu rakus, loba, tamak, lapar, haus dan mengantuk, merah yang menggambarkan watak nafsu keras hati, angkaraq murka, cepat marah, kuning yang menggambarkan watak nafsu berkeinginan keras, serba ingin sesuatu, mengumbar kesenangan, putih menggambarkan sifat bijaksana, dan keutamaan, cahaya kelima yang seperti zamrud yaitu pancaran cahaya dari bumi ; air(banyu), api(geni), angin(bayu), akasa(angkasa), matahari(surya), bulan(candra) dan bintang (kartika). Sedangkan wujud cahaya tunggal tanpa bayangan di dekatnya seperti kumbang yang bertaburan banyak sekali dan itulah cahaya dari kalbu dan batin manusia, dan itu pulalah wujud dari niat, keinginang, dan pemikiran, dan kesemuanya ada pada jaman antara(saat sebelum bertindak atau berbuat).
Keadaan cahaya tunggal sebenarnya adalah kebahagiaan sejati, yang merupakan wujud dari sukma luhur yang menghidupi badan wadag manusia yang di sebut juga Hyang Suksma Kawekas yang serba tentram dan bahagia sepanjang masa, selalu segar tanpa minum, kenyang tanpa makan, mengantuk tanpa tidur…inilah yang disebut Sangkan Paraning Dumadi (awal Mula kejadian). Sedangkan kedua lubang hidung itu adalah sarang angin (sumber nafas) dan tirta prawita suci  adalah air suci awal kehidupan yang terletak dalam samudera minangkalbu yang bermakna ‘ untuk menemukan sumber awal kehidupan perlu bantuan qalbu/ batin atau matahati kita sendiri.
Siapa yang memerintah dan diperintah , bermakna bahwa dalam tubuh ini ada 2 unsur pokok batin, roh atau nurani yang seharusnya selalu dianut segala pendapatnya karena disanalah kebenaran sejati telah dipertimbangkan. Wujudnya adalah dari keinginan, niat dan pemikiran murnisebelum diolah atau dipertimbangkan oleh akal yang menerima informasi tambahan dari luar. Keputusan situasi batin yang disebut sebagai zaman antara, sebelum diperintahkan otak kepada seluruh badan. Kesatuan tanpa perpecahan yakni; antara perintah otak dan perintah suara hati yang harus dijaga selalu sama. Sebenarnya yang meemrintah dalam diri kita adalah suara hati atau batin, roh kita dan yang diperintah adalah otak dan anggota badan, karena roh dimasukkan oleh Tuhan pada embrio saat berumur 120 hari, oleh leluhur kita juga disebut manunggaling kawula gusti. Roh sebagai gusti yang berujud kesadaran diri, dan badan adalah kawula yang berujud hidup dan kesadaran yang sudah ada sejak manikem ditangkap oleh indung telur dan terus tumbuh menjadi janin dan bayi, dengan segala anasir-anasir yang mempengaruhinya selama dalam kandungan ibu.
Memahami Hakikat Warna Cahaya Hidup
  1. Cahaya Putih : warna inti pertama yang menyimbolkan manifestasi air, dan memiliki sifat, watak dan kemampuan serat symbol nafsi muthmainah atau spiritual religius, jujur, menerima apa adanya dan kemampuan air ini adalah melarutkan, menghancurkan, daya tairk, angkat, sejuk, menyegarkan, dll. Dan orang yang memiliki daya ini dapat menolong orang lain sesuai dengan sifat air tersebut ( seperti air di belah). Dan untuk memperoleh daya air ini manusia harus memiliki itikad baik yang kemauan mutlak dengan berbagai cara, seperti berendam dalam air jernih yang mengalir selama beberapa periode agar terserap daya air ini ke dalam seluruh jaringan tubuhnya, dan dilakukan secara teratur. Dan pada manusia secara alami sebetulnya sudah tertanam daya ini mulai dari air ketuban yang melingkupi bayi sejak dalam kandungan, air embun khususnya yang berada di ujung ilalang pada siang hari dan tertiup angina dan hanya ada pada masa kemarau, air dalam buah kelapa yang masih muda yang biasanya hanya ada setetes saja , uap air yang terdapat di tutup panic sewaktu menjerang air, atau yang paling mudah adalah endapan air laut yaitu garam dilarutkan kembali dengan air yang telah direbus.
  2. Cahaya Merah : merupakan warna inti kedua yang menyimbolkan manifestasi api, dan mendasari watak, kemampuan serta symbol nafsi amarah, memiliki watak, hidup dinamis, awas, teliti, semangat, ambisi, emosi, pemberontak, iri, dengki, culas, pembohong. Cipta dari daya hidupnya adalah merupakan luapan dari energi yang bergerak bersifat prabawa, mengembangkan, memekarkan dan juga memiliki daya menghancurkan, membasmi, memledakkan, membakar dan biasanya orang yang menguasai energi api ini disebut menguasai biotermis dan daya inilah yang memproses pertukaran zat dalam tubuh sehingga melangsungkan kehidupan dan memperpanjang kehidupan, tetapi juga bisa mengahanguskan, dan menghancurka kehidupan yang lain. Daya energi ini dapat di diserap tubuh pada saat pagi hari ( sejak matahari terbit – 10.00) , daya ini bersifat bioelektronis dan akan membentuk daya biotermis dan biomagnetis. Dengan memusatkan nalar budi, cipta dan batin  di sertai nafas teratur  dan kontinyu akan sangat bermanfaat bagi kesehatan .
  3. Cahaya Kuning : merupakan warna inti ketiga, yang merupakan manifestasi dari angina dan mendasari sifat, watak dan kemampuan serta symbol dari sufiah dan memiliki watak seni budaya , sopan santun, kasih saying, cantik, rapi, toleransi, manusiawi, semu, palsu, gensi, cabul, boros, konsumtif, daya geraknya sperti angina menghidupi, menumbuhkan, menyatu, membaur, menyusup dan daya penyangga mendorong, membongkar, daya angkat, menembus jaringan, dan orang yang menguasai daya ini biasanya di sebut menguasai daya multikomplek/serbaguna, karena dalam angina terkandung energi uap bumi, energi panas, maupun air dan juga sebagai tenaga penghantar tenaga-tenaga gaib seperti ether, listrik, suara, bau, magic. Cahaya kuning juga bisanya bisa sebagai symbol datangnya wahyu, pulung, keluhuran atau nilai unggul
  4. Cahaya Hitam : merupakan warna inti keempat, yang menyimbolkan manifestasi dari bumi atau tanah  dan mendasari watak, sifat dan kemampuan serta symbol nafsi lawwammah yang bersifat produktif, materi, kreatif, inovatif, bisosiatif(mampu memperbaiki system kea rah lebih baik dan mampu mengarahkan potensi lingkungan dengan baik untuk direalisasikan dengan ketangguhan momentum kerja secara tepat ), tega, egois, sadis, jahat, daya cipta suara hatinya menumbuhkan, langgeng serta daya penyangga menghisap, segala sesuatu melebur atau menetralkan tapi juga mematikan. Secara lahiriah sebenarnya tidak tampak tapi sesungguhnya sangat dominant di banding tiga warna lainnya karena merupakan manifestasi pancaran anasir bumi yang ada dalam diri manusia. Dan daya ini diserap tubuh dengan sangat sederhana ; 1. berdiri tegak lurus, 2. rileks, 3. tata nafas diperhalus, perlahan dan teratur, 4. membayangkan wajah sendiri (konsentrasi), 5. menyebut nama Allah memohon anugerah daya inti bumi.
  5. Cahaya Gemerlapan : sinar zamrud merupakan cahaya gabungan (hasil induksi dari cahaya inti yang saling berdempetan sehingga membentuk warna baru sebagai cahaya pamor(campuran). Merah kuning menjadi hijau, hitam putih jadi abu-abu, dst. Walaupun menjadi gabungan namun tetap tergolong sebagai cahaya dominant yang ada dalam alam semesta ini, karena ini merupakan cahaya hidup yang berpengaruh dan berada dalam tubuh manusia , sedangkan sifat dan watak dan kemampuan yang menonjol dari cahaya-cahaya tersebut adalah sebagai berikut :
  6. Cahaya Hijau : merupakan gabungan yang menyimbolkan manifestasi dari anasir tumbuhan, yang mendasari watak atau sifat  dan kemampuan; religius, damai, tentram, tenang,dan memiliki daya getar kemampuan menghidupi, berkembang, mengayomi dan daya penyangga menghisap, menyerap segala sesuatu dan menetralkan
  7. Cahaya Biru : merupakan cahaya gabungan yang menyimbolkan manifestasi anasir langit dan mendasari sifat, watak dan kemampuan ; sembada(kuat, kukuh, patuh, layak), terampil, watak kepemimpinan, dan cipta suara hati luas pandangan hidupnya mengayomi, menentramkan, selalu berada di depam, dan daya penyangga meraqngkum segala sesuatu, menyatukan lembut tetapi kuat, tekad kuat.
  8. Cahaya ungu : merupakan cahaya gabungan yang menyimbolkan mafestasi dari anasir langit menjelang pagi  antara pukul 03.00 – 05.00, dan mendasari watak, sifat dan kemampuan ; hamangku ( melindungi, menjaga) hamengkoni ( melingkupi merangkum dan menguatkan), prabawa, sugestif ( cepat tanggap, kuat pengaruh dan ginugu ( dipercaya dan dianut kata-katanya),. Cipta suara hatinya daya getar hidupnya memiliki kemampuan anasir langit pagi hari, yakni ; menyejukkan, perasaaan sesame, menentramkan segala hal, mantap langkah hidupnya dan daya penyangganya adalah membingungkan lawan, mendobrak menghancurkan dan mematikan
  9. Cahaya Abu- Abu : merupaka cahaya gabungan yang menyimbolkan manifestasi  dari anasir mega/ awan, dan mendasari watak, sifat dan kemampuan ; mobah mosik (selalu bergerak gerik, berubah-ubah, tidak tetap pendirian, pintar beradaptasi, gampang bergaul, supel. Cipta suara hatinya menggelapkan suasana, menimbulkan saling curiga, mengadu domba dan memiliki daya penyangga memporak porandakan lawan, memanfaatkan tenaga lawan, mengecoh sasaran
Inilah yang sering di sebut Lima Cahaya Hidup dan dalam pewayangan digambarkan sebagai cakra yang mampu melindungi kehidupan manusia bai, jasmani dan rohani
Pengisian Warna Cahaya Hidup pada Manusia
Waktu pengisian cahaya hidup di mulai dari sejak dari janin dan setiap hitungan bulan ganjil dan itu terjadi pengisian kekuatan gaib yang bersifat insani atau proses pendewasaan jiwa, dan penjelasannya sebagai berikut :
  1. Embrio pada bulan pertama yang masih berwujud cairan mani yang di saput indung telur dan diliputi oleh cahaya berwarna putih dan diidentifikasi sebagai sinuksman Sukmo Suci keberadaannya dilingkupi sukma suci (ruh Robbi) atau insani dan gerak hidupya di sebut muthma’inah dan daya yang masuk di beri identitas Sang Hyang Maha Suci , sifat hidupnya ibarat air dan bapak ibunya di sarankan untuk berbuat atau bertingkah laku pada kesucian lahir batin karena embrio pada kandungan ibu tersebut akan memberikan pengaruh atau terinduksi pada embrio dan akan muncul kelak setelah anak lahir dan menjadi dewasa dan ini tidak mengenal jarak, waktu, ruang baik sengaja maupun tidak.
  2. Janin usia tiga bulan sudah mulai tumbuh secara fisik dengan tanda-tanda pembentukan organ walalupun masih berwarna merah, inilah yang di maksudkan diliputi cahaya merah yang sinuksman Sukmo Weing atau di sebut Ruh Nurani atau rokhmani, gerak hidupnya di sebut amarah dan di beri identitas Sang Hyang Maha Waseso (yang berkuasa atas hidup). Sifat hidupnya ibarat api karena janin sudah bisa menyerap energi panas dari ibunya ( zat asam, makanan) sehingga dengan masuknya zat dari luar maka terjadi pertukaran zat antar janin dan ibunya dan sisa proses ini akan dikeluarkan dan diserap oleh ibunya untuk ikut di buang diluar tubuh. Zat-zat inilah yang memacu pertumbuhan sel-sel tubuh, termasuk sel otak, sekaligus menyerap getaran sensasi pikiran, jiwa, dan tingkah laku perbuatan orang tuanya yang kemudian menyatu dengan pembentukansimpul-simpul syaraf dalam tubuh dan otak janin. Inilah proses dimana sang bayi mulai merekam segala apa yang dilakukan orang tuanya. Dan perlu kehati-hatian dan kewaspadaan dari orang tua, jangan berangan atau melakukan sesuatu yang negative.
  3. Bayi dalam kandungan pada bulan kelima hampir semua tubuh sudah terbentuk, namun kondisinya masih sangat lemah, dan pada usia ini diliputi cahaya kuning  yang sinuksman Sukmo Rasa (nurani cahaya terang) yang disebut Ruh Idlafi /Rokhim ( jiwa yang terhalus yang bisa melihat Tuhan) atau disebut Sang Hyang Maha Luhur. Gerak hidupnya adalah Sufiyah, dan saat ini kondisi jiwanya  sudah mencapai ke tingkat budi (bijak) yang berarti sudah dapat mengenali adanya induksi dari lingkungannya. Disarankan pada orang tua agar waspada dan mengkondisikan situasi hidupnya pada hal-hal yang menentramkan, harmonis, rukun, damai, saling mencintai dan menjaga hati masing-masing dan budi pekerti luhur.
  4. Bayi dalam kandungan pada bulan ke tujuh ini sudah sempurna, organ tubuh sudah lengkap dan kuat dan pada usia ini bayi dilingkupi cahaya hitam, yang menandakan cahaya batinnya dan snuksman Sukmo jati (nyata) yang di identitaskan  sebagai Ruh Jasadi/ Kodir (berguna pada badan). Gerak hidupnya di sebut nafsi Lawwammah dan diidentitaskan Sang Hyang Moho Langgeng ( maha abadi)  Pada usia ini sari-sari makana yang diproduksi dari bumi di serapnya lewat sari makanan yang ada dalam tubuh ibunya dan menjadikannya unsure badaniah semakin sempurna. Bagi yang mengerti ilmu batin , segala organ tubuh yang terbagi dalam kelompok mana sakti yang terbagi sebagai berikut :
    • Wulu (bulu/rambut), kulit, daging
    • Getih (darah), balung (tulang), sumsum
    • Otot/urat(pembuluh nadi/darah), bayu (otot besar yang bertenaga)
    • Jantung, paru-paru, impes(kandung kencing)
    • Kemaras (limpa), usus; kesemuanya berjumlah 14 organ tubuh
Adapun hati dan otak dalam tenaga batin tidak dimasukkan sebagai organ tubuh fisik karena keduanya merupakan singgasana bersarangnya kekautan gaib. Dan sad (keenam) indranya yakni : penciuman pada hidung, pelihat pada mata, pendengar pada telinga, pengecap pada mulut, perasa pada seluruh ujung syaraf bagian luar tubuhnya sebagai alat bantu informative dari kerja otak dan hati juga tidak termasuk sebagai organ tubuh secara fisik. Dan pertumbuhan bayi berada bersifat jasmaniah, sehingga daya serap sang bayi berada pada posisi penyerapan pengaruh luar yang bersifat keragaan dan budaya kerja, dan tinggal menunggu saat kelahirannya.
  1. Bayi pada usia kandungan sembilan bulan sepuluh hari (8 selapan x 35 hari = 280 hari) dan pada saat bayi normal dilahirkan ke duania sang bayi diliputi cahaya Abramarkata, dan pada saat lepas dari pintu gerbang gua garba sang ibu ia langsung  sinuksman oleh Sukmo Wicara (ruh pembicara), yang disebut Ruh Robbul’alamin, dan mulai saat itu sempurnalah jiwa dan jasadnya, lahir sebagai anak manusia yang insaniah dan jasadiah memiliki bekal awal batiniah yang baik badan kasar maupun badan halusnya  dan disebut sebagai sinuksman Sang Hyang Maha Mulyo (maha mulia) dan gerk hidupnya di sebut nafsi kapawitra. Pada saat kelahiran sang bayi adalah saat yang paling sensitive, artinya jangan sampai lingkungan sekitar semrawut, tidak tenang, tentram. Rasulullah pernah bersabda : “ Kalian kelak di hari kiamat akan dipanggil dengan nama kalian dan dengan nama ayah kalian, maka berikanlah nama itu dengan yang baik-baik” ( Nasy’at Al – Masri, 1995 : 41-42)  Pada saat pemberian nama itulah terjadi proses ‘geter’ (geletar sinar terang bak kilat yang hanya bisa dilihat oleh orang khusus ) dan ‘pater’ (suara petir yang juga hanya dapat di dengar oleh orang khusus ) sebagai wujud kesaksian alam semesta dan kesaksianNya, dan ini akan sangat berpengaruh pada perjalanan hidup sang anak sampai kematiannya . Dan ini disebut sinuksman Sang Hyang Sukmo Kawekas (sukma terakhir/pamungkas)
Bekal awal memahami Kekuatan Batin
Pada saat melahirkan disamping mengerahkan energi fisik juga mengerahkan segala daya/ getar ciptanya; cinta kasih, kebahagiaan, kekhawatiran, cemas, sehingga segala derita, kesakitan yang amat sangat tidak di perdulikannya demi keselamatan dan kelahiran sang anak dan getar cipta inilah yang sebennarnya yang menahan sakit yang teramat hebat ini dan semua ini sudah dalam pengaturanNya , lindunganNya, ketentuaNya. Wujud terima kasih kepada Allah Sang maha Pencipta atas “karya ciptaNya” yang agung  yang telah memberikan kepompong gaib (wadah gaib) kepada sang bayi selama di kandungan ibu yang terdiri dsebelum bayi keluar air ketuban mendahuluinya, maka disebut Kakang (saudara tua), sedangkan ari-ari baru keluar di belakang bayi sehingga disebut sebagai Adhi (saudara muda). Darah ibu yang mengikuti bayi dan potongan puser (pangkal dari usus plasenta/ ari-ari) adalah saudara pengiring atau penyangganya . Keempatnya di sebut sedulur papat ( empat bersaudara) dan kalmia pancer ( pokok pangkal )  yang sang bayi sendiri, sebenarnya secara lengkap saudara tua (kakang) adalah terdiri dari :
  1. Selaput ketuban (saput wungkul) yang dinamakan kakang putih, wujudnya dapat dilihat setelah bayi lahir  dan sis a selaput ketuban yang mongering dan masih lekat pada kulit bayi akan berwarna putih seperti bedak
  2. Mar (getar cipta) dan Was (rasa kekhawatiran dan cemas) ibu yang muncul bersamaan saat uwat (mengejan/mengerahkan semua tenaga fisik rohani untuk mendorong sang bayi) yang melicinkan jalan keluar sang bayi melewati pintu gerbang Gua garba ibu.
Sedangkan saudara muda (adik) terdiri :
  1. Ari-ari (plasenta)
  2. Getih (darah)
  3. Puser (potongan tali pusat)
  4. Pancer (baying-bayang sang bayi)
Sebelum lahir kedunia berdelapan itu telah saling hidup menghidupi dan bersama-sama sebagai openyangga hidup sang bayi selam sembilan bulan sepuluh hari dan mereka juga di karuniani getar/daya hidup olehNya dan secara rohaniah mereka tetap bersama dan berdampingan sepanjang masa.
Inti latifah ( Cakra Besar)
Titik awal kehidupan manusia adalah semenjak dari ayah (sperma) di tangkap oleh indung telur dari ibu, setelah sembilan hari blostoksit terbenam ke dalam dinding rahim dan berkembang menjadi mudghoh (segumpal daging) dan menjadi janin. Dan sejak itulah anak manusia ini mempunyai daya hidup dan kesadaran yang terjadi karena kehendakNya. Daya hidup dan kesadaran inilah yang menjadi inti latifah (kebaikan/kelebihan) yang memiliki jaringaNn sirkuit di seluruh bagian tubuh bahkan pada titik tertentu inti latifah memiliki daya pancar yang lebih kuat di banding bagian lain di tubuhnya. Khususnya titik pusat panca inderanya, pusat dada, pusarnya, bawah pusar, pangkal tengkuk, antara kedua alis mata, ujung lidah, langit-langit dalam mulut, dan klep (sentil) tenggorokannya. Atau yang di sebut pusat prana, cakra, mana, dll. Pada titik itulah gerbang daya tertentu yang memiliki kekuatan khas tertentu pula dan setelah terlatih maka inti latifah akan senantiasa dapat bekerja sendiri secara otomatis, untuk itu seseorang harus memahami dulu hal-hal sbb:
  1. Meyakini adanya daya batin dalam diri yang merupakan Rahmat Allah yang maha Esa dan ini merupakan karena kuasaNya
  2. Perlu di pahami bahwa di tengah-tengah otak manusia ada semacam “ stop kontak” yang di gunakan untuk mengalirkan daya gaib  yang di tujukan ke mana saja dan diperlukan untuk apa
  3. Biasakanlah untuk hidup dengan berlaku ikhlas , sabar, lahir batin, jujur serta tergantung mutlak pada Tuhan
  4. Senantiasa melaksanakan tafakur, mengheneingkan cipta dan memusatkan segala pikiran sesuai keyakinan masing-masing dan merenungi, mengakui segala daya tersebut agar kunci latifah dapat bekerja sama sebagaimana mestinya.
Daloam pelatihan tata nafas dapat dipilih beberapa sikap tubuh yang paling mudah dan mantap dan bisa tahan lama tanpa merubah posisi, yakni :
  1. Duduk sidhakep asuku tunggal (duduk dengan badan tegak, kaki bersila dan tangan bersedekap )
  2. Berbaring telentang tanpa alas kepala, kaki lurus sejajar dan tangan sejajar dengan badan, telapak tangan menempel pada paha
  3. Duduk di kursi dengan sikap sempurna, punggung tegak, telapak kaki sejajar dan tangan berada di atas kedua paha
Langkah berikutnya adalah :
  1. Sikap roleks dan pasrah
  2. Pejamkan mata dan panjatkan doa mohon manfaat sesuai iradat (maksud dan tujuan)
  3. tarik nafas pelan sehalus mungkin dan alirkan ke pusat otak(ubun-ubun), hentikan nafas setelah paru-paru optimal tahan selam mungkin, samakan pada saat menarik nafas. Selama tahan nafas terapkan ening pikiran, hati. Nafas dilepas perlahan dari ubun-ubun sampai ke ujung jari kaki
  4. Berkonsentrasilah pada titik-titik cakra dan telapak tangan serta hapalkanlah wajah anda dan bayangkan wajah anda pada saat memejamkan mata
  5. Pada saat menarik nafas untuk yang muslim ucapkanlah cipta batin “ Hu “ dan ucapkan “ Ya” pada saat melepaskan nafas.
  6. Mulailah mawas diri dengan menyadari kesalahan-kesalahan diri, kekurangan dan kekhilafan diri
  7. Permohonan pada saat menahan nafas adalah penyerahan dan menggapai kesadaran diri
  8. Memohon keselamatan dunia dan akhirat
Ilmu tenaga batin dapat di bagikan dalam 2 kelompok :
  1. Tenaga gaib yang berasal dari Tuhan YME yang memang berasal dari sejak masih dikandungan ibu untuk menyangga hidupnya secara langgeng dan di sebut dengan daya kodrat (natural)  atau kanuragan
  2. Sisi lainnya di dapat dari tenaga gaib dari luar diri atau pinjaman dari mahkluk halus dan di debut Jaya Kawijayan
Jenis-jenis Daya yang di miliki Manusia
Di bagi dalam 4 jenis dayayang berada dalam diri manusia , yakni :
  1. Daya dari pusat atau latifah atau ingsun yakni syaraf rasa yang berada dalam kulit daging dan bersentral pada titik tertentu yakni antyara 2 alis mata, pusat dada, bawah pusar dan pada telapak tangan
  2. Daya dari sedulur papat  yaitu kakang kawah adhi ari-ari, darah ibu dan puser (potongan tali pusat )
  3. Daya dari sedulur pancer (baying-bayang manusia ) atau kumayan
  4. Daya batin manusia ( cipta, rasa dan karsa)
Daya dari pusat inti latifah ada pada 7 tempat yakni :
  1. Adhara terletak di atas dubur
  2. Adhisthara terletak diantara kemaluan dan pusar
  3. Manipura terletak pada pusar
  4. Anchara terletak pada dada (hati)
  5. Wisudhi terletak pada tenggorokan
  6. Ayana terletak diantara 2 alis mata
  7. Sahasraya terletak pada ubun-ubun (puncak otak)
Ketujuh puncak daya itu di sebut padma atau cakra (putaran) dan semuanya menyatu dalam putaran yang terus menerus melalui 3 pusat syaraf (nadi). Urat syaraf poko berada pada jalur tulang belakang, dimulai dari bawah naik ke atas menembus pusat-pusat mitis tadi dan berakhir diantara alis. Dua urat syaraf  yang lebih kecil melingkar seperti lingkaran ular , dari kiri ke kanan untuk lain . Keduanya melingkar naik ke atas menuju tempat diantara kedua alis dengan melingkari tiap pusat mitis tanpa menembusnya sampai keduanya bertemu di tempat diantara kedua alis , lalu berpisah lagi, yang satu dari sisi kiri memasuki lubang hidung kiri sedangkan yang lain dari sisi kanan memasuki lubang hidung kanan. Menurut kepercayaan sedulur papat itu setiap 35 hari sekali di berikan makanan berupa jenang merah putih, jajanan pasar, dan sesuai weton kelahiran dan sebelumnya di dahului dengan mengurangi tidur dan berpuasa.
Kemampuan melihat Nur Rajah Kalacakra  adalah sbb :
  1. Dapat merupaka pertanda atau peringatan tentang akanterjadinya sesuatu, missal kesusahan, kebahagiaan dan sejenisnya, terlihat bersit nurani sekelebat yang berwujud berkas-berkas cahaya pancamaya, misal  :
    1. Bersit warna putih, pertanda bahwa persoalan yang di hadapi saat itu sifatnya merupakan tindakan social akan berhasil dengan memberikan nasehat yang muncul dalam angan-angan saat berikutnya setelah cahaya terlihat
    2. Bersit cahaya merah, pertanda bahwa sesudah melihat dalam waktu yang tidak terlalu lama paling lama 1 minggu segala apa yang di niatkan  atau yang di butuhkan  akan terkabul
    3. Bersit cahaya kuning, pertanda  bahwa segala hasil karya  yang di lakukan  untuk memenuhi kebutuhan hidup akan membuahkan hasil dan bisa datang tiba-tiba dan di luar dugaan
    4. Bersit cahaya hitam, pertanda akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan atau tidak menyenangkan
    5. Bersit cahaya hijau, pertanda akan mendapat hal-hal yang menguntungkan
    6. Bersit warna abu-abu, pertanda akan mengalami kegagalan , tertipu atau di khianati
    7. Bersit warna biru, pertanda akan menerima kebaikan dari pihak lain
    8. Bersit warna ungu, pertanda akan mengalami halangan, kesialan, atau pertengkaran.
    9. Dalam ilmu kanuragan warna-warna cahaya hidup ini bila di munculkan dalam angan-angan  dapat dimanfaatkan untuk memperlemah pertahanan lawan

Simbol ini menggambarkan 8 watak mata angina sebagai lambang kekauatan alam semesta yang terdiri dari 8 anasir; bumi, matahari, bulan, bintang, lautan, angina, api dank abut dan di manifestasikan sebagai 8 jalan utama untuk mencapai alam kehidupan yang memiliki budi luhur; benar dalam ucapan, perbuatan, mata pencaharian, konsentrasi, pengertian, daya upaya, dan pikiran

Proses Terjadinya Tindakan

Pujine Nafas Patang Prakara

1. Napas, iku tetalining urip, iya tetalining ruh, rupane ireng, plawangane Af’alullah, dununge ing lesan, pujine ; ” Laa ilaha ilallaah “, iku sampurnaning kulit daging.
2. Tanapas, iku pamiyarsaning ruh, rupane kuning, plawangane Asma’ullah, dununge ing kuping, pujine ; ” Allahu… Allahu “, iku sampurnaning balung lan otot.
3. Anpas, iku panggonaning ruh, rupane ijo, plawangane Sifatullah, dununge ing gigir, pujine ; ” Allah…Allah “, iya iku sampurnaning geting lan sumsum.
4. Nupus, iku paningaling ruh, rupane putih, plawangane Dzatullah, dununge ing netra, pujine ; ” Ya Hu…Ya Hu “, iku sampurnaning pangawasa lan napsu.

Jakarta, Kamis kliwon, 18 Desember 2008
pukul ; 10.13 – by Satmata

sumber :  http://kyaimbeling.wordpress.com/pujine-nafas-patang-prakara/

insan kamil

Manusia paripurna adalah manifestasi Tuhan di dunia yang memiliki kewajiban utama mengagungkan dan memuliakan Sang Pencipta, karena inilah ia diberikan ha-hak istimewa oleh Tuhan. Untuk menjadi manusia paripurna harus melampaui kedudukan kalian sebagai manusia ( an-nas ) terlebih dahulu, bukan hanya manusia berkesadaran hewan yang memangsa dan dimangsa. Jika sebagai seorang al mu’min ( beriman ) terlampaui maka kalian harus melampaui kedudukan manusia bertaqwa ( al muttaqin ) samapai seterusnya. Hidup adalah kehendak untuk membuktikan bahwa dirinya ada dan inilah yang mesti disadari oleh kita sebagai manusia, untuk menyadarinya ujilah dirimu ;
Pertama, sadarilah bahwa dirimu merupakan manusia yang terbuat dari tanah lempung yang disemayami ruh Ilahi. Kedua, sadarilah bahwa keberadaan manusia yang lain adalah sama dengan dirimu sehingga tidak usah merasa lebih tinggi atau rendah. Ketiga, sadarilah bahwa yang paling tinggi derajatnya diantara insan adalah mereka yang sudah mencapai pencerahan dengan menyaksikan Hakikat yang Ilahi yang tersembunyi didalam dirinya.
Pupuh 2 sebagai berikut :
Manusia hakiki (sejati ) adalah, wujud hak, kemandirian dan kodrat
Berdiri dengan sendirinya, Sukma menjelma sebagai hamba
Hamba menjelma pada Sukma, nafas sirna menuju ketiadaan
Kehampaannya meliputi alam semesta
Sifat 20
1. Nafsiyah : Wujud – sifat yg berkaitan dengan Diri atau Dzat
2. Salbiyah : Qidam, Baqa, Mukhalafah, li al hawadits, Qiyamuhu bi nafsihi, wahdaniyah
3. Ma’ani : Qudrat, Iradat, Ilm, Hayat, Sama’, Bashar, Kalam
4. Ma’nawiyah : Qadiran, Muridan, Aliman, Hayyan, Sami’an, Bashiran, Mutakalliman
Sifat Rasul
1. Shiddiq : jujur
2. Fathanah : cerdas, cermat dan seksama
3. Amanah : dapat dipercaya
4. Tablig : orang yang menyembunyikan yang bukan haknya dan menyampaikan pada yang berhak menerimanya
Fardhunya syahadat
1. Tashdiq : meneguhkan hati kepada Dzat Allah, mengetahui bahwa segala sesuatu adalah ciptaanNya, dan Nabi Muhammad adalah diutus oleh Dia untuk member keteladanan akhlak yang mulia
2. Ta’zhim : Dilakukan dengan mengagungkan asma Allah
3. Hurmat : adalah menhormati kesucian Tuhan dalam kehidupan ini
4. Hilawah : adalah menghiasi diri dengan sifat2 terpuji
Tapa sebagai perwujudan syariat :
1. Tapa Ngeli : menghanyutkan diri …berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan agar bisa hidup sesuai dengan kehendak Tuhan “ darma nglakoni “
2. Tapa Geniara : tidak boleh merasakan sakit hati, bila dibicarakan orang lain, untuk mlatih kalem, teguh rahayu
3. Tapa Banyuara : harus mampu menyaring omongan dan tutur kata
4. Tapa Ngluwat : tidak boleh membanggakan kebaikan diri, tidak memamerkan kebajikan diri, dan sepi pamrih
Kitab Semesta
1. Loh mahfuzh ( papan tulis yg terjaga ): kitab yg memuat hukum yang menerangkan kejadian di alam semesta ini seperti heriditas ( pewarisan sifat ), kebangkitan, dan semua hokum material dan immaterial kosmos
2. Kitab Mubin : yang merekam fenomena alam yg ada secara actual seperti dalam surat Yunus 10:61
3. Imam mubin : adalah kitab arsip bagi apa yg telah dilakukan atau masih tersimpan dalam pikiran manusia, dan tersimpan petunjuk bagi kemajuan lahir dan batin manusia
Ihsan
Itulah yang disebut Sang Hyang Widhi olehnya
Dia berbuat baik dan mengabdi atas kehendakNya
Dihapuslah tekad lahiriahnya
Tingkah laku dan pendapat yang dilahirkan tiada berbeda
Berketetapan hati tuk berkiblat dan setia
Teguh dalam pendiriannya
Segala kotoran yang melekati dibersihkannya
Sampai ajal tak akanmenyembah budi dan cipta
Dirinya bersifat Muhammad yang mulia
Sifat rasul yang sejatinya
Sifat Muhammad yang kudus dan mulia
Tiada yang dijadikan pimpinan dalam hidup ini
Kecuali budi yang dipimpin Dzat Wajibul Maulana
Ihsan adalah wujud dari rukun iman dan islam, yaitu pengabdian kepada Allah sepenuh hati seolah2 kau melihatNya, dan meskipun engkau tidak melihatNya, Dia melihat engkau .
Hiasi dirimu dengan warna Ilahi
Hormati cinta dan tegakkan
Tabiat muslim penuh cinta kasih
Yang tak punya cinta jadi kafir
Segala gerak hidupnya tergantung pada Allah semata
Segala kehendaknya, iradah Ilahi
Mari tinggalkan kata
Cari hakikat ruhaninya
Tuangkan cahaya Ilahi atas gulita amalmu
Raja kita teramat miskin dari semua orang
Karena kemiskinan sang raja rakyat menderita
Dia perampok bukan seorang kalifah
Ketololannya menipu diri sendiri
Atas nama kerajaan disebarkan wabah petaka
Lapar seorang pengemis Cuma memusnahkan diri sendiri
Laparnya raja membinasakan negeri dan agama
Maka : Siapapun menhunus pedang tidak demi Tuhan
Pedang itu menusuk ke dadanya sendiri
Iqbal
Barang siapa yang mendatangi orang yang kaya dan bersikap tawaduk, merendahkan diri kepadanya karena hartanya, maka ia telah kehilangan duapertiga agamanya
Ali bin Abi thalib
Sifat Nafsiah adalah sifat yg berkaitan dengan “Diri” atau Dzat, yang mengatributkan pada adanya Tuhan, Tuhan wajib ada, pasti ada dan mustahil bila tidak ada
Sifat Salbiyah adalah sifat yang meniadakan sifat lawannya, artinya bila Tuhan yang disebut yang paling dahulu keberadaanya maka tidak ada lagi yang mendahuluinya dan ini disebut juga sebagai Jamal. Qidam mempunyai arti yang ada yang tidak didahului oleh keberadaan sebelumnya, Baqa’ mempunyai arti sebagai sifat yang tak pernah berakhir, Mukhalafah artinya berbeda dengan barang baru, iniah sifat unik, semua yang terindera disebut barang baru dan berbeda dengan ruh yang ditiupkan oleh Dia, sedangkan ruh sendiri mempunyai tingkatan yaitu; ruh khayali, aqli, fikri, kudus.
Ruh indrawi ( madariki )ada pada setiap makhluk hidup dan merupakan cikal bakal kehidupan dan menyebabkan ciptaan bisa hidup.
Ruh Khayali berfungsi untuk menyimpan kesan atau memori, disinilah seorang bayi bisa mengenali apa-apa yang terserap oleh inderanya walaupun untuk tahap memaknainya missal untuk memahami apa sebenarnya yang pahit dan manis itu.
Ruh Aqli merupakan ruh yang mampu memahami makna-makna diluar indera dan khayal, bisa memahami sesuatu yang abstrak dan merupakan essensi manusia yang tidak ditiupkan pada binatang. Ruh inilah yang dapat memahami sesuatu yang berupa tamsil, ibarat, perumpamaan dan metafora lainnya dan agama merupakan santapan bagi ruh ini.
Ruh Fikri adalah ruh yang mampu mengakomodasikan pengetahuan rasional murni, kemudian menggabungkan pengetahuan tersebut menjadi satu, dari penggabungan itu didapatlah kesimpulan sehingga dihasilaknlah pengetahuan baru yang berharga bagi manusia.
Ruh Kudus adalah ruh yang ditiupkan pada para nabi, wali, dan orang-orang suci dan dengan ruh ini sesorang dapt menyaksikan hal-hal gaib, hokum alam dan ini merupakan tambahan agar manusia dapat memperoleh petunjuk dalam hidupnya
Dan Syekh Siti Jenar merincinya sebagai berikut;
Diri manusia di bagi menjadi 3 lapisan, yaitu lapisan jasmani atau jasad, lapisan nafsani atau jiwa, dan lapisan ruhani atau sukma. Dan masing-masing instrument dapat menangkap kebenaran pada dimensinya.
Lapisan jasmani berfungsi untuk menerima semua kesan inderawi, dan tidak bisa memaknainya dan tidak bisa digunakan untuk memahami apa dibalik itu, dan kemampuannya terbatas pada umur tertentu, dan berhenti pada saat manusia mati dan tentu saja tidak dapat dipakai sebagai pedoman.
Lapisan Nafsani merupakan pembeda antara manusia dan binatang, dengan instrumennya ini manusia dapat memiliki kesadaran sebagai manusia, mampu berangan-angan dan berpikir, dengan berpikir manusia dapat memilah dan memilih, menimbang, mengetahui antara fakta dan realita dan ekspresi lainnya. Namun instrument ini yang namanya akal, budi dan pikiran dapat mengembara ke dunia imajiner atau khayali yang tidak berpijak pada kebenaran, maka dari itu ini harus disinari ruh alias sukma; “Sukma menjelma sebagai hamba, hamba menjelma pada sukma, nafas sirna menuju ketiadaan, badan kembali sebagai tanah “, dan ruh inilah yang disebut mursyid sebagai penunjuk jalan. Qiyamun bi Nafsihi artinya bangkit dengan Dzat pribadinya sendiri.
Manusia yang hakiki, adalah wujud hak, kemandirian dan kodrat
Berdiri dengan sendirinya
Adanya kehidupan ini karena pribadi
Ditetapkan oleh pribadi
Ditetapkan oleh kehendak nyata
Hidup tanpa sukma
Tiada merasakan sakit atau lelah
Suka dukapun musnah
Berdiri sendiri menurut karsanya
Hidup sesuai kehendaknya
Wahdaniyyah artinya satu, esa atau tunggal, inilah sifat keenam Tuhan yang merupakan sifat manusia sempurna, dualitas yang hilang pada sifat ini, dan ini merupakan alam ruhani yang terendah berada diatas nafsani yang diterangi gemerlapnya bintang dan kita dapat mendengarkan panggilan Tuhan semesta alam dan dialam ini senantiasa makhluk ruhani beraudensi dengan Tuhan dan setan ataupun makhluk yang berenergi negative lainnya tak akan sanggup mendengarkan pembicaraan dialam ini
Sifat Ma’ani adalah sifat yang mengandung sifat-sifat nafsiyah. Qudrat dan Iradat, Kodrat artinya kuasa dan ini dimiliki manusia dalam ssifat sederhana untuk memilih memilah, mengatur, membuat, dll, dan pencapaiannya juga berbeda2 tergantung pada kebiasaan melatih dirinya. Iradat artinya adalah sifat kehendak atau kemauan yang dimiliki manusia, dan antara kodrat dan iradat tidak dapat terpisahkan dan dengan ini manusia bisa berbuat apa saja yang dikehendaki, dan apabila tidak bisa memimpinnya maka akan menjadi perusak kehidupan, karena hanya berhenti di nafsani maka dibawah kekuasaan Ego, yang seharusnya di bawah kendali Ruh dariNya, itulah yang ada di ayat Kursi dan seperti tembang berikut ini ;
Kodrat adalah kuasa pribadi
Tiada yang mirip atau menyamai
Kuasanya tanpa peranti
Dari tanpa rupa menjadi warna warni
Lahir batin satu sebab sawiji
Iradat berarti
Karsa tanpa runding
Hidupberdiri sendiri
Menurut karsanya
Sesuai kehendakNya
bersambung …

1 Comment:


Tinggalkan Balasan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.
Bergabunglah dengan 223 pengikut lainnya.

imaji kekosongan

Sabtu, 17 Agustus 2013

Imaji Kekosongan


Oleh Aini Machmudah
“Kosong, Tak penuh dan tak juga terpenuhi, hanya ada larik dan baris tak berarti.  Lihatlah kesana, di ambang angin dan udara! meraka juga sama, masih kosong dan tetap kosong. Ruang hampa tanpa tanda, yang begitu lekat dan terpancar lewat garis tak berwarna. Hanya kosong dan lagi-lagi kosong. Datang dan kemudian berlalu pergi menukar diri”
Deskripsi kecil yang muncul begitu saja ketika saya duduk dalam salah satu ruang di gedung B8, menanti dosen yang lebih dari empat puluh menit tak kunjung datang untuk membagi ilmunya. Bait yang jika diintreprestasikan lebih lanjut pasti akan berbeda antar satu orang dengan yang lain.  Sebuah bait biasa dan sederhana tentang kosong.
Kosong sering dikonotasikan dengan kondisi sendiri, sepi dan hening. Namun sering terlupakan bahwa sesungguhnya di dalam keadaan kosong semua rasa akan terpancar dan terpantul di sana. Kosong bukan hanya berarti hampa, bodoh atau tak berguna namun lebih kepada sifat penetralan diri dengan melepas beben-beban yang ada.
            Sebuah sistem bilangan menyatakan bahwa kosong itu adalah satu per nol ( ) yang akan  menghasilkan  jumlah  penghitungan tak hingga (~). Bilangan tak hingga sendiri hingga kini masih banyak menyisakan misteri yang belum dapat dipecahkan lebih lanjut oleh para ahli, namun demikian  banyak orang menjabarkan bahwa bilangan tak hingga itu sama dengan kata ‘luar biasa’.
            Riffater (1978) seorang ahli sastra Barat menganggap bahwa gambaran hidup sama dengan puisi. Memahami puisi (baca: kehidupan) sama halnya dengan memahami kue donat. Apa yang hadir secara tekstual diibaratkan sebagai daging donat, sedangkan yang tidak hadir adalah ruang kosong yang berbentuk bundar di tengah donat yang berfungsi menopang daging donat menjadi donat. Ruang kosong yang tidak ada secara tekstual itulah yang menentukan terbentuknya kehidupan, dengan kata lain bahwa ruang kosong dapat menghasilkan sesuatu itu ada.
            Hewan malam seperti nokturnal pun memiliki ruang kosong, sebut saja burung hantu salah satunya. Burung hantu yang duduk di sebatang dahan mengilhami ruang kosong dalam malam sebagai simbol kebijakan. Semakin banyak ia melihat, semakin sedikit ia berbicara. Semakin sedikit ia bicara, semakin banyak ia mendengar. Mengapa kita tidak mencoba merasakan imaji kekosongan dan menjadi seperti burung hantu yang bijaksana itu?
            Merasakan imaji kekosongan mungkin dapat menjadi salah satu alternatif untuk mencari ketenangan berpikir, ketenangan hati dan rasa, suatu bentuk kesadaran menuju kesadaran jiwa sampai pada tingkat bawah sadar yaitu tingkat transendental perasaan, perasaan yang menyatukan sebuah kesatuan dengan seluruh alam yang bergabung dalam keseluruhan tunggal.   

1 komentar:

  1. I like this... tadi kan aku nyari nyari tentang serat suluk, ehh ternyata pas ketemu blognya kamu........ salam kenal ya
    BalasHapus

serat suluk

Kamis, 13 Desember 2012

Serat, Babad dan Suluk


1.    Serat
a.    Serat Sastra Gendhing
Serat Sastra Ganding diciptakan oleh Kanjeng Sultan Agung. Beliau adalah raja Mataram yang termasyur sebagia negarawan dan budayawan. Serat Sastra Gendhing berisikan tentang garis-garis rumusan pemecahan problem-problem sosial yang pada masa itu. Sultan Agung meninggalkan karya tulis seperti itu, yang merupakan momentum kultural, yang amat berharga. Beberapa warisan spiritual seperti:
1.      Serat Sastra Gendhing merupakan karya sastra yang  mengajarkan jiwa persatuan dan kesatuan (monodualistis) sebagai pola dasar dalam pemecahan yang menyeluruh atas masalah-masalah kehidupan yang dipadukan dengan realitas sosial masyarakat pada zaman itu.
2.      Dalam Serat Sastra Gendhing untuk kehidupan pribadi perseorangan, diajarkan monodualis yang disatukan menjadi kesatuan utuh sebagai warisan spiritual luhur, meliputi:
·         Jiwa dan raga
·         Dzat dan sifat
·         Kemampuan (potensiil) dan cita-cita (idiil)
·         Makna kehidupan dan irama Kehidupan
·         Ajaran (teoritis) dan pelaksanaan (praktis)
·         Agama dan ilmu (hakikat dan syariat)
3.      Dalam kehidupan sosial bermasyarakat Sastra Gendhing mengajarkan ikatan kesatuan mulai dari keluarga  yang harus dikukuhkan dengan landasan filosofi, mistis dan relegius. Sedangkan untuk konteks kemasyarakatan diajarkan jiwa persatuan kesatuan antara sosial dengan kebebasan pribadi, semisal lautan dengan ikannya.  
4.      Dari segi kenegaraan Serat Sastra Gendhing mengajarkan persatuan dan kesatuan antara pemimpin dan rakyat, seperti semboyan yang diucapkan Ki Hajar Dewantara ”Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”
5.      Mengajarkan metode mawas diri yaitu subjek yang bercermin pada penilaian objektif orang lain.
b.      Serat Wulangreh merupakan karya sastra berbentuk tembang hasil buah karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Naskah ini diawali dengan puji-pujian kepada tuhan.secara singkat, wulangreh berisi tentang piwulang atau ajaran kepada para putranya agar senantiasa melatih jiwa dan pikiran. Keseliruhan dari hal itu dapat dilaksanakan melalui latiha-latihan fisik dengan sungguh-sungguh, seperti mengurangi makan tidur, olah keprajuritan, dan menjauhi tindakan bersenag-senang . Dianjurkan pula untuk menuntut ilmu dan melaksanakan hukum agama dengan benar.
c.       Serat Wedhatama adalah sebuah karya sastra Jawa baru yang secara formal dinyatakan ditulis oleh Magkunegara IV. Serat Wedhatama ini digolongkan sebagai karya moralitas-didaktis yang terpengaruh dengan islam. Bentuknya adalah tembang yang biasa dipakai pada masa itu. Terdiri dari 100 pupuh yang terbagi menjadi lima lagu yaitu: Pangkur, Sinom, Pocung, Gambuh dan Kinanthi. Serat Wedhatama berisi keterangan tentang pentingnya menimba ilmu demi peningkatan diri, mulai dari bekal yang harus dimiliki sampai dengan kewajiban yang hendaknya dilakukan sebagai seorang murid. Dengan demikian Serat Wedhatama secara keseluruhan membahas ajaran kewajiban menuntut ilmu, falsafah hidup, seperti tenggang rasa, bagaimana menganut agama secara bijak, menjadi manusia seutuhnya, dan menjadi seorang yang berwatak kasatria.
d.      Serat Wulang Estri merupakan karya sastra kelanjutan dari ajaran Paku Buwana IV yang ditujukan bagi putrinya, yaitu berupa ajaran berumah tangga. Didalamnya dijelaskan bahwa berumah tangga bukanlah hal yang mudah dijelaskan pula bahwa sarana orang berumah tangga bukanlah harta atau rupa, melaikan ‘eling’. Dalam menyampaikan ajaran ini digunakan kisah seorang raja cina dan Ternate. Pada bagian akhir disebutkan pula alasan seseorang disebut perempuan serta pengkategorian perempuan yang baik dan yang buruk.
e.       Serat Wedaraga merupakan salah satu karya sastra berbentuk tembang macapat karangan R. Ng. Ranggawarsita yang merupakan sebuah petuah kebaikan atau petuah tentang hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan badani kita, isi nasihatnya berupa wejangan kepada anak muda jangan sampai mengikuti kehendak diri atau mengobral kesanggupan, karena setiap tindakan dan perbuatan harus diperhitungkan secara masak. Didalam serat ini diajarkan pula agar seseorang bersedia melatih fisik dan pikiran, serta mengontrol diri dengan mengurangi nafsu menyestakan yang terdapat dalam jiwa.
f.       Serat Nitisastra karya Raden Ngabehi Yasadipura II adalah salah satu karya sastra Jawa yang berisi piwulang atau ajaran budi pekerti. Teks diawali dengan keterangan bahwa orang yang tidak tahu tata krama merupakan orang yang sangat bodoh. Yang kemudian dilanjutkan tentang sama, beda, dana dan dhendha.  Banyak sekali nasihat yang termuat dalam teks ini, diantara ajaran tentang tata krama, keagamaan, pergaulan, dan teladan perbuatan baik. Apa yang ada dalam Serat Nitisastra secara tersurat maupun tersirat merupakan pesan-pesan moral yang patut diketahui, diamalkan, dan diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
Simpulan:
Dari contoh-contoh Serat beserta penjelasannnya dapat diambil simpulan bahwa Serat merupakan jenis karya sastra yang mengandung piwulang atau Pitutur kearah kebaikan dan kebijakan antara lain tentang etika atau moral, tatacara dan atau upacara tradisi tertentu, sikap dan sifat-sifat seseorang dalam mengabdi pada raja penguasa , orang tua dan sebagainya.
Babad
a.       Babad Giyanti adalah sebuah syair dalam bentuk tembang macapat yang dikarang oleh Yasadipura. Babad ini mengisahkan tentang peristiwa-peristiwa politik yang terjadi dijawa yaitu mengenai pembagian kerajaan Mataram menjadi dua yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Menurut Poerbatjaraka (1958: 145) Babad Giyanti ini bahasanya sangat hidup dan pelukisan masing-masing tokohnya juga hidup sekali. Ricklefs (1955: 84) menyatakan bahwa Babad Giyanti merupakan dokumen yang teliti yang mencakup kurun waktu antara tahun 1746 sampai 1760. Pembagian kerajaan Mataram menjadi dua itu tampoak terasa hingga sekarang dengan adanya dikotomi  antara gaya Surakarta dengan gaya Yogyakarta.
b.      Babad kartasura merupakan salah satu karya sastra berbentuk macapat, sekar tengahan yang mengkisahkan tentang kelalaian Patih Sindureja dalam pengabdiannya kepada raja karena ia terlibat dalam permasalahan anaknya Raden Sukra. Kisah dalam babad ini dilanjutkan dengan cerita tentang Raden Ajeng Sasi, Raden Ayu kedhaton, dan Raden Ayu Impun.
c.       Babad Sengkala Merupakan babad berbentuk prosa (aksara jawa) yang  mengisahkan tentang kedatangan orang hindu yang menempati wilayah-wilayah pedalaman, seperti kalimantan dan Papua. Teks dilanjutkan dengan cerita tentang orang Arab dalam menyebarkan Agama islam. Didalaamnya juga terdapaat kisah tentang kunjungan Raden  Patah ke Gunungjati dikediaman Ibnu Maulana, dan Pembukaan wilayah Cirebon oleh Raden Patah. 
d.      Babad Surapati Naskah ini menceriritakan kisah untung surapati, seorang pengelana yang mengabdi dikartasura. Karena jasanya dalam menumpas keributan dibanyumas, surapati kemudian memperoleh kehormatan dan kedudukan tinggi. Selanjutnya, diceritakan penghianatan dan pemberontakan Surapati terhadap kartasura yang menyebabkan peperangan Trunajaya. Naskah ini diakhiri dengan kisah pertemuan Raden Sukra putra Adipati Sindureja dengan Raden Ayu Lembah.
e.       Babad Damarwulan ditulis dengan aksara jawa yang mengisahkan tentang kehidupan raja majapahit, brawijaya yang adil dan bijaksana,  kemudian dilanjutkan dengan cerita tentang kencanawungu putri Brawijaya yang menggantikannya sebagai raja majapahit, akan tetapi memperoleh tentangan dari Menakjingga, sampai akhirnya damarwulan (suami kencanawungu) berhasil mengalahkan menak supena karena mendapat bantuan dari Ki ajeng Tunggul menik. Naskah ini diakhiri dengan kebaktian lima istri Damarwulan kepada Ki Ajar Tunggal Manik.
f.       Babad demak secara singkat berisi tentang perjalanan Raden Sahid, putra Adipati Tuban yang menjadi berandal hingga bertemu dengan sunan bonang yang membuatnya bertobad lalu berguru kepada Sunan Bonang hingga dberganti nama menjadi Sunan Kalijaga. Selain mengisahkan tentang Sunan kalijaga, babad Demak ini juga membahas mengenai Jaka Tarub bersama Dewi Nawangwulan, cerita tentang Ki Getes Pandhawa yang kemudian bernama   
Simpulan :
Dari penjelasan beberapa contoh babad dapat diambil simpulan bahwa Babad adalah salah satu bentuk karya sastra yang berisi tentang sejarah lokal yang berhubungan dengan nama tempat, daerah, nama kerajaan, nama suatu kejadian atau peristiwa yang monumental, atau berhubungan nama tokoh besar tertentu. Penulisan babad umumnya berada dilingkungan kraton dengan rajanya selaku penguasa daerah yang bersangkutan, sehingga babad sendiri cenderung bersifat subjektif karena berisi legitimasi kekuasan para raja atau penguasa.
Suluk
a.       Suluk Seh Takawardi merupakan karya sastra jawa baru yang berisi mengenai ajaran Seh Tekawardi, seoarang pendeta Gunung Maligeretna di Negara Garbasumandha. Pada suatu hari ia memberikan wejangan kepada anak cucu dan penduduk Garbasumandha. Ajarannya antara lain berisi: definisi tentang orang tua dan orang muda, hal-hal yang sebaiknya dilakukan disaat muda, serta arti hidup didunia. Selain itu diajarkan pula tentang sikap dan sifat yang harus dilakukan pada saat mengabdi pada raja.
b.      Suluk Malang Sumirang adalah salah satu karya sastra islam yang merupakan ajaran Sunan Panggung dari Kesultanan Demak. Ajaran ini berupa kritik atau sindiran kepada para ahli Sariat. Selanjutnya Sunan Panggung dihukum dengan cara dibakar hidup-hidupsebab dianggap menyebarkan agama sesat. Menurut Drewes (1977: 97) ketegangan pada Suluk Malang Sumirang berkaitan dengan teks-teks agama yang penuh dengan intrertable dan debatable.
c.       Suluk Wujil merupakan suluk karya Sunan Bonang ysng mengkisahkan tentang Wujil seorang bekas aktor dan pelawak diistana Majapahit yang terpelajar,dalam suluknya setelah 10 tahun berguru kepada sunan Bonang, dan mempelajari agama serta sastra Arab secara mendalam,dan akhirnya ia merasa jemu dan sia-sia. Jiwanya merasa kering kerontang dan gelisah, hatinya menjerit dan kebingungan. Tidak tega melihat penderitaan muridnya, Sunan Bonang akhirnya mengajarkan tasawuf, khususnya jalan mengenai hakikat diri yang merupakan sumber kebahagian.
Simpulan :
Dari penjelasan tentang beberapa contoh Suluk tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Suluk adalah karangan yang banyak muncul pada zaman islam dengan corak utama yaitu mengajarkan tentang tasawuh  yang ditulis dalam bentuk puisi atau tembang .Jenis sastra suluk ini berisi tentang ajaran untuk menuju kesempurnaan hidup bagi manusia.
Sumber : Saktimulya, Sri Ratna. 2005. Katalog Naskah-naskah Perpustakaan     Pura Pakualaman. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia- The Toyota Foundation.
               Purwadi. 2008. Sejarah Sastra Jawa Klasik. Yogyakarta: Panji Pustaka
               Widayat, Efendy. 2011. Teori Sastra Jawa. Yogyakarta: Kanwa Publisher
2.    Karakteristik serat, babad, dan suluk
·         Karakteristik serat
1.      Serat berisi tentang ajaran atau Piwulang dan pitutur kearah kebaikan dan kebajikan.
2.      Didalam serat berisi tuntunan agung yang dapat dijadikan seabagai pedoman dan suri tauladan bagi manusia.
3.      Serat menganduing makna moralitas yang berkenaan dengan dengan etika hidup.
·       Karakteristik Babad
1.    Babad berisi tentang sejarah lokal yang berhubungan dengan nama tempat, daerah, kerajaan maupun tokoh besar (historis)
2.    Babad bersifat lokal yang ditulis dengan cara pandang tradisional, sehingga sering dibumbui dengan berbagai hal yang bersifat pralogis atau bahkan bersifat fiktif dan simbolik.
3.    Babad bersifat istana centris karena pada umumnya ditulis pada lingkungan kraton dengan raja selaku penguasa daerah yang bersangkutan , atau lingkungn bangsawan yang lebih kecil.
4.    Pada umumnya babad ditulis dengan tujuan: (a) mencatat segala peristiwa, kejadian, atau pengalaman yang pernah terjadi pada masa lampau. (b) untuk menjadi teladan yang baik agar dapat diambil manfaatnya. (c) untuk memperkuat sakti raja.(Sedyawati, ed. 2001: 267)
5.    Babad bersifat subjektif karena kebanyakan penulisnya berasal dari latar belakang, kecenderunga, dan pendiriannya yang ditentukan oleh pengalaman, situasi, dan kondisi hidupnya pada sebagai manusia sosial budaya pada masa dan masyarakat tertentu (Teeuw, 1988)
6.    Babad bersifat fragmentatif artinya bahwa fakta-fakta yang ditampilkan dalam babad tidaklah lengkap.
7.    Babad menekankan pada pengagungan leluhur maupun raja, yang menekankan pada pengukuhan legitimasi sebagai catatan sejarah bagi kepentingan penguasa dan keturunanya.
8.    Babad bersifat sugestif  artinya bahwa babad dapat mempengaruhi pandangan seseorang.
·       Karakteristik Suluk
1.      Suluk kental dengan ajaran agama islam.
2.      Suluk sering kali dihubungkan dengan ajaran-ajaran tasawuf  yang kemudian dimaknai dengn pengembaraan atau perjalanan dalam rangk mencari makna hidup.
3.      Suluk sering dianalogikan dengan kata ‘yen sinusul muluk’ yang berarti kalau dikejar semakin membumbung tinggi. Maksutnya, keilmuan suluk, bila semakin dipikirkan akan semakin jauh untuk dijangkau pikiran atau logika awam.
4.      Permasalahan yang sering diangkat dalam suluk berhubungan erat dengan hal-hal ghaib yakni hal-hal supranatural yang yang hubungannya dengan Tuhan dan kehidupan manusia.
5.      Suluk memiliki struktur yang tidak mudah difahami maknanya atau relatif membingungkan, terutama bagi yang tidak bisa menggelutinya.
6.      Sastra suluk umumnya ditulis dalam bentuk tembang (macapat) namun juga ada yang berbentuk prosa. 
Sumber: Widayat, Efendy. 2011. Teori Sastra Jawa. Yogyakarta: Kanwa Publisher

1 komentar:

  1. I LIKE THIS...... thanks ya blognya bagus dech...
    BalasHapus